Tuesday, 30 May 2017

La Garetta' #11 [Masih Di Balik Jeruji]

Bagitu gaduh penjara hari itu. Tahanan kelas bawah datang menyusup ke jeruji sebrang demi menemui tersangka kasus pencabulan yang mereka dengar dari desas-desus. Melihat semua mata melirik Ilo’, kini para tahanan itu berkumpul mengelilinginya. Kepala sipir mulai komat kamit memanggil bantuan melalui walkie talkie. Ilo’ kebingungan sementara dua teman ngobrolnya khawatir tak bisa melakukan apapun.

Di tengah kerumunan massa berotot kekar itu,  ada satu orang yang tiba tiba melangkah maju ke depan ilo’ dengan memegang sebuah alat yang bentuknya mirip pistol. Ilo pun semakin cemas tatkala alat itu diarahkan ke badannya.

“Bang, bisa minta tanda tangan di punggung saya gak? Pake ini.!”, sambil menyerahkan benda itu. Barulah ilo’ tahu kalau yang diserahkan kepadanya adalah sebuah alat jarum tatto. Nampaknya lelaki itu adalah big Boss dari jeruji sebelah. Semua tahanan mengikutinya. Dan beruntungnya ia adalah salah satu fans berat ilo’ semenjak terjun di dunia kriminal.

Thursday, 2 February 2017

La Garetta' #10 [Di Balik Jeruji]

        Sudah seminggu Ilo’ mendekam di penjara pasca tuduhan kasus asusila tersebut. Meskipun statusnya masih tersangka dan diizinkan untuk beraktivitas di luar seperti biasanya, baginya sama saja, mau di mana pun semuanya seperti penjara. Gerak nya semakin terbatas. Di mana-mana banyak mata. fans dan pers sama sama mengintai. Bersiap untuk menghujani nya dengan berbagai pertanyaan. Cape' Deh.

Dalam keadaan seperti ini, mungkin penjara memang tempat yang lebih baik untuknya menikmati kesunyian dan menjalani perenungan. Ia melihat bahwa sejarah telah mencatat sejumlah mutiara mutiara yang bersinar di balik jeruji. Seperti Nelson Mandella yang dibalik penjara sempat menulis karya berjudul "Conversation with Myself". Bung Hatta menulis "Indonesia Vrij". Ada juga Pram dengan tetralogi Pulau Buru nya. Hamka dengan Tafsir al-Azhar nya. Ibnu Taymiyah dengan Majmu' Fatawa. atau Sayd Quthb dengan Tafsir Fi Zilal al-Qur'an dan Ma'alim fi al-Thariq.  Ilo’ sempat berpikir mungkin dia juga harus menulis karya seperti mereka. Tapi menulis apa? dan untuk apa?. Biar abadi? biar dikenal dan dikenang?. Toh, Ia sudah terkenal. Dan ia juga tak perlu menulis untuk dikenang, sebab dialah sang objek yang ditulis. Para jurnalis sudah beberapa kali menulis tentang dirinya di kolom kolom media. Para penulis sudah banyak menulis buku biografi tentangnya. “Jadi Untuk apa?” alasan itu tak ia temukan. Namun andaikan ada alasan yang paling logis untuknya menulis, mungkin adalah “untuk siapa?”. Ya. Tapi untuk siapa?.

Thursday, 26 January 2017

Bookspirasi : Tamasya ke "Perpustakaan Kelamin"


 Sekilas tentang Perpustakaan Kelamin

Novel ini bercerita tentang seorang tokoh bernama Hariang yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang sangat mencintai buku. Di dalam rumah, ada sebuah ruangan yang sangat dirahasiakan oleh ibunya. Tiap kali Hariang menanyakan perihal tersebut, ibunya selalu mengelak dengan berkata “Kamu belum waktunya tahu”. Tak jarang perihal tersebut menimbulkan pertengkaran diantara mereka berdua.

Barulah ketika Haring beranjak Dewasa, ia kembali memberanikan diri untuk kembali menanyakannya. Dan kini Ibunya mengizinkan. Saat dia membuka ruangan tersebut, ia terkejut. Ruangan yang  selama ini  ia kira makam ayahnya ternyata adalah sebuah perpustakaan dengan ribuan buku  yang dikumpulkan dari hasil keringat ibunya selama ini. Uniknya, rahasia yang selama ini ditutupi oleh ibunya merupakan sebuah metode yang sengaja diterapkan sang Ibu.

"Merahasiakan ruangan ini dari kamu, adalah mutlak rencana ibu. Alasan ibu sederhana, biar kamu terus bertanya, merindukannya, lalu jatuh cinta kepada yang ibu rahasiakan itu, sesaat setelah kamu mengetahuinya”
“Ibu hanya ingin kamu jatuh cinta kepada buku, menganggapnya sebagai benda yang istimewa”
(hlm 10)

Thursday, 19 January 2017

Annual Report

      Dalam sebuah rapat, seorang stakeholder asmara mereview lembar demi lembar laporan akhir tahun.
Sekilas, Neraca hati tetap seimbang. Meski dengan puluhan penyesuaian dan koreksi patah hati tersembunyi di dalamnya.
Sekilas, trend laba rugi asmara tetap stabil. Begitupula dengan perubahan modal cinta. Namun sekilas arus kas terasa sepi.
Lalu, ia pun mencoba menafsirkan kisah di setiap deretan angka dan akunnya. Menguak misteri di balik digit-digit rasa yang gelisah. Rasio pun dimainkan.

"Hmm, likuiditas kenangan tampak menurun. Ada apa?"

Bertanya ke manajer perasaan. Di jawabnya, liabilitas rindu jangka pendek bahkan belum bisa terbayar hanya dengan aktiva sapa darinya.

Thursday, 29 December 2016

Libur - (Liang Kubur)

Engkau sedang menggali waktu
Ada peti pengalaman yang hendak kau cari
Ada kilauan kenangan yang ingin kau genggam
Ada banyak momen Indah yang harus kau tangkap
Kau hampir lupa
Monster amnesia maha dahsyat suatu saat akan merebutnya

Engkau sedang menggali waktu
Ada resah yang hendak kau timbun
Ada gerah yang ingin kau benamkan
Ada banyak masalah yang berusaha kau tutupi
Tapi itu hanya sementara
Sebentar lagi mereka akan bangkit meminta pertanggung jawaban
Tuk diselesaikan.

Monday, 22 August 2016

Wallahiko? Wallahika’!

Syahdan, Nabi Isa AS. pernah melihat seorang lelaki mencuri. Ketika Sang Nabi bertanya, “Apakah engkau mencuri?”. Lelaki itu menjawab “Tidak! Demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia!”. Maka Sang Nabi pun langsung percaya pada pria itu dan mendustakan apa yang telah ia lihat.[1]
Kalimat sumpah “Demi Allah”, sudah berabad abad menjadi kalimat sakral yang memiliki otoritas kebenaran atas sebuah pernyataan. Sumpah ini sering diungkapkan dengan lafaz Wallahi, Tallahi, Billahi atau bisa juga dengan menyandingkan kata sumpah dengan asma ataupun sifat Allah seperti “Demi Arrahman” atau “Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya”.

Di bumi Rahmatul Asri, kesakralan “Wallahi” juga berlaku. Ketika sebuah berita ataupun pernyataan tidak memiliki bukti yang cukup, maka dengan mengucapkan Wallahi, pernyataan tersebut seolah telah mendapat sertifikat kebenaran untuk meyakinkan semua orang. Hal ini juga berarti orang yang bersumpah siap mengambil resiko atas apa yang ia sumpahkan. Entah itu kualat maupun kafarat.

Wednesday, 27 April 2016

La Garetta' #9 [Misdirection]

Mata Rakyat telah dicabut, Rakyat meraba-raba dalam kasak Kusuk
_Sajak Mata Mata WS Rendra_

      Sebuah konferensi rahasia yang dihadiri oleh orang-orang penting negara, berlangsung di bawah sana. Mereka sedang menggelisahkan sebuah berita yang mengancam rahasia negara tercuat ke publik.

“Hanya karena sebuah postingan blog, waktuku terbuang di tempat ini?”, Gumam seorang petinggi A.

“Aku juga tak menyangka dampaknya akan separah ini. Beberapa Stasiun TV telah memberitakan kesotoyan kesotoyan mereka”, diikuti gumaman petinggi B.

“Mau bagaimana lagi?, ketika satu anjing menggonggong, anjing yang lain ikut menggonggong meski tak tahu apa yang sebenarnya digonggongkan”, Petinggi C bergumam tenang

“Kalau begitu segera perintahkan anjing anjing media itu untuk menghentikan berita nya!.” Seru petinggi D

Slow Down, Baby!, Kau kira dengan seperti itu gonggongan akan berhenti?. Saat ini, publik tak sebodoh itu. Ketergesa-gesaan kita justru akan membuat masyarakat semakin curiga” Petinggi E ikut angkat bicara