Tuesday, 23 November 2010

PEREMPUAN-PEREMPUAN PERKASA



“A tribute to mba’ Raba’ de ka ka”

Kata ini hanya terdiri dari enam huruf, namun cukup ampuh untuk mengingatkanku pada suatu tempat di mana pertama kalinya aku berkenalan dengan budaya antri. Apalagi kalau bukan KANTIN (math’am), tempat para santri santri memuaskan lambung mereka yang sedang demo meminta haknya. Di tempat ini pulalah aku mengenal sosok wanita-wanita perkasa yang hampir seluruh seluruh waktunya dalam sehari ia korbankan demi anak-anak titipan orang tua yang sudah bosan atau mungkin tak sanggup lagi merawat anaknya. Betapa tidak .....!!! di saat jarum pendek menunjukkan pukul 4 subuh, ia sudah menyalakan kompor walau kantuk masih menggoda matanya.  Jam 6 pagi ia sudah siap membagi lauk ala kadarnya. telur transparan, telur dadar setipis kertas, lauk yang sering dikeluhkan oleh para anak manja yang lidahnya belum pernah mengecap lezatnya pengorbanan, keikhlasan dan kasih sayang pada makanan tersebut. Mungkin mereka belum tahu bumbu rahasia yang melezatkan segala makanan. yaitu rasa syukur dan kebersamaan.

Ketika sarapan pagi telah usai, ia langsung membersihkan sisa-sisa makanan santri bandel yang berhamburan menghiasi meja dan lantai, mengepelnya hingga kinclong agar kami merasa nyaman saat makan. Setelah itu,
ia belum juga beristirahat, namun kembali mempersiapkan menu untuk makan siang dan begitu pula saat menjelang makan malam sampai seterusnya.

Di ma’had terdapat tiga kantin, sementara di kantinku ada tiga ibu kantin yang bertugas. sungguh tak adil, tiga orang wanita dihadapkan dengan ratusan santri  yang karakternya beraneka ragam. Apalagi jika yang dihadapi adalah santri baru. sifat cengeng, manja, dan berbagai bentuk kenakalan pada mereka  masih terbawa dari bangku SD. Kantin tak ubahnya seperti pasar dengan kehadiran mereka. Tak jarang pula aku dibuat jengkel dengan sifat kekanak-kanakan mereka. Ribut sana sini. Sisa-sisa makanannya pun berhamburan dimana-mana. Terkadang aku merasa kasihan terhadap ibu kantin yang harus melayani mereka semua. Mau bagaiman lagi ?. namanya juga anak-anak. Nasehat yang lebih efektif untuk mereka hanyalah sebuah contoh yang baik.

Beberapa ibu kantin telah ku kenal baik sejak aku masih SMP diantaranya mba’ Raba’,mba’ Ida, mba’ Ana dan mba’ Dora. Begitulah kami memanggilnya padahal mereka semua bukan asli jawa. Mba’ Raba’ termasuk ibu kantin senior di ma’had. Entah sudah berapa tahun ia mengabdi di sana. Wajahnya memang tidak terlalu persis dengan orang sulawesi pada umumnya. mungkin terlalu kejam jika kukatakan ia lebih mirip bangsa aboringin, ukuran tubuhnya agak kecil dan pendek, sampai sekarang masih jomblowati. Namun siapa sangka kalau kemarahannya mampu membungkam orang bermulut besar sekalipun. Kekuatannya tak usah ditanya, kepalanya sudah sering menjunjung jerjen besar berisi 25 liter air serta benda-benda berat lainnya.

Adapun mba’ Ida,  memang jika dilihat dari umurnya, ia sudah tua. Namun pagi ini aku masih sempat melihatnya menjunjung tabung gas 11 kg yang akan diisi ulang.  Tampaknya ia begitu ceria dan bersemangat. Sangat berbanding terbalik denganku yang baru bangun dengan wajah super kusut (begadang belajar). ”baru bangun....!!!” ia menyapaku dengan nada menyindir yang membuatku malu. “bisa-bisanya anak muda sepertiku kalah dari seorang nenek” kataku dalam hati. Sapaannya itu hanya ku balas dengan lengkungan di bibir yang tidak semua orang beruntung mendapatkannya. Mba’ ida punya seorang anak yang juga ibu kantin, namanya mba’ Ana. Dulu ia punya seorang anak namun sekarang ceritanya lain.

Yah.... hari itu masih terekam teringat dengan jelas. Ia sedang menggendong anaknya yang baru lahir beberapa minggu sebelumnya. Wajahnya masih merah merona, tatapannya kosong tak mengerti apa yang terjadi di sekitarnya.

“nama anaknya siapa mba’ ?”. pertanyaanku pun membuka pembicaraan.

“namanya Chandra”, jawabnya dengan penuh semangat seakan akan ia sudah menunggu pertanyaan itu dariku. Dari raut wajahnya pun dapat ku tebak bahwa bukan hanya aku yang ingin ia beritahu, tetapi  ia ingin dunia juga mengetahuinya.

“ooh... Chandra..., emm”, sejenak ku berpikir, ku teringat nama itu dalam sebuah buku sejarah yang baru-baru ini  ku pelajari di kelas.

“ada apa ? memangnya kamu tahu artinya ?”, tanya mba’.

“artinya bulan mba’”, jawab ku dengan antusias. nama itu berasal dari bahasa sansekerta, merupakan nama sungai di india sekaligus nama dewa bulan dalam sistem kepercayaan agama hindu.

“Masa sih ?” tanyanya dengan nada harap-harap tak percaya. Terlihat ia begitu senang dan bangga terhadap bayi itu. Beruntung sekali aku mengetahui artinya hingga hari itu aku telah membuatnya tersenyum. ” Lain kali aku tak akan meremehkan pelajaran sejarah lagi” tekadku dalam hati. Nama itupun tak bertahan lama karena diganti atas saran dari ustad Ilo’_ustad dengan tatapan dinginnya yang khas sering membuatku serba salah seakan-akan aku ini banyak dosa­_. Yang dulunya Chandra sekarang menjadi Syahrul. Aku sempat heran karena artinya juga bulan. Yang membedakan hanyalah asal katanya yang berasal dari bahasa arab. Mungkin supaya terdengar lebih islami.

Namun semuanya jadi berubah pada hari itu, ketika ku pulang dari sekolah aku lihat semua orang berkumpul, yang membuat hatiku bertanya-tanya ada apa gerangan. Suasana begitu hening. Baru kali ini ku lihat kantin dipenuhi banyak orang tanpa kegaduhan. Perasaan ini bertambah bingung saat ku dengar rintihan seorang wanita di kantin. Semakin aku mendekat, suara itu perlahan-lahan semakin jelas.

ooo ana’ ku’ !!! depa kesi’ u wita ko jokka. Depa kesi’ u engkalinga ko molli’ ka’ makkeda EMMA’. Na  Magai kesi’ masija’ ladde muselaika’ ???”, tangis mba’ Ana dengan histeris.                                                Bettuanna (“ohh anakku....!!! aku belum melihat mu berjalan, aku belum mendengarmu memenggilku IBU. Tapi mengapa engkau begitu cepat meninggalkanku ??”)

Syahrul kecil ternyata telah menghembuskan nafas terakhirnya. Isak tangis mba’ Ana memecah belah kesunyian. air matanya yang mengalir deras melambangkan kekesalannya terhadap takdir. Pemandangan itu sulit aku gambarkan, hatiku seperti disayat oleh belati yang telah diolesi dengan jeruk nipis. 

Itu hanyalah se-atom kisah dari seribu satu kisah yang ku alami di ma’had. Sebenarnya hampir seluruh ibu kantin ku kenal baik dan hal itu sangat menguntungkanku, aku bebas makan di kantin manapun tanpa terdeteksi. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa itu sama halnya dengan parasit seperti pagar makan tanaman. Tapi bagiku tidak, menurutku perbuatanku itu tergolong dalam simbiosis mutualisme seperti jalak bali dan kerbau. spekulasi sederhanaku dibayar dengan lauk tambahan. Cukup adilkan ??. yang jelasnya jika aku diberikan pertanyaan oleh Tanto Wiyahya dalam kuis who wants to be a millioner, “siapakah  wanita perkasa di planet bumi ?” maka aku tidak akan memilih Wonder woman, Natsuki, Saras 008, Tsunade ,ataupun jawaban yang lainnya.  Jawaban ku hanyalah sebuah frase yang jika kedua katanya dipisahkan akan membentuk makna yang berbeda.”IBU KANTIN”.





Add caption


Ilo’ manzur Nak SNIPER

Cempa, 26 agustus 10


Post a Comment