Showing posts with label bookSPRASI. Show all posts
Showing posts with label bookSPRASI. Show all posts

Sunday, 21 June 2020

Bookspirasi : Spiritualisme Kritis pada Bilangan Fu




     1 : a = 1 x a = 1; dan a bukan 1. Bilangan apakah a?


Dalam novel ini, formula tersebut dijabarkan secara filosofis melalui pergulatan batin seorang pemanjat tebing bernama Sandi Yuda yang mendapatkan bisikan bilangan mistis dari makhluk bulsebul (manusia-serigala-jantan-betina) yang kerapkali datang dalam mimpinya.

Spiritualisme kritis menjadi inti sel dari buku ini, yakni sikap spiritual yang tidak bertolak belakang dengan nalar kritis. Pemikiran ini dijewantahkan penulis secara dialogis dalam kisah persahabatan Yuda yang modernis dengan seorang ahli geologi yang humanis bernama Parang jati, sehabat sekaligus rival dari kebiasaan bertaruhnya.

Yuda tak pernah membayangkan kalau suatu saat, sedikit demi sedikit Jati membawanya pada misteri dan alam pikiran tak berujung yang mulai mempengaruhi paradigma dan kehidupannya. Dipacu oleh kasus-kasus ganjil, seperti hilangnya mayat dari kubur, pembunuhan guru ngaji hingga kemunculan pasukan ninja juga manusia sirkus aneh mengantarkan mereka dari teka-teki yang satu ke teka-teki yang lain.

Sunday, 23 June 2019

Bookspirasi : Tiba Sebelum Berangkat, Luka Liku Si Gender ke Lima



Saya telah salah pilih bacaan saat bulan Ramadhan. Ada beberapa adegan yang mudah mudahan tidak membuat puasa jadi makruh. Gambaran awal cerita cukup filmis dan menegangkan. Novel ini sama sekali tidak se-kawaii covernya.

Tokoh utamanya adalah Mapata (juga dipanggil Laela), seorang tawanan yang disekap oleh sebuah organisasi gelap penjual organ tubuh manusia, telah menerima berbagai macam siksaan selama proses interogasi, dari penisnya yang ditindih dengan kaki kursi, jemarinya yang dipatahkan satu per satu hingga lidahnya yang dipotong dengan bilah bambu. Awalnya semua itu tak membuatnya gentar.

Kau tidak akan mampu membunuhku selain dengan membuatku berhenti bernyawa, dan itu ..... itu bahkan tidak mampu menghentikanku tertawa, malah seperti dipijit.

Namun beda cerita ketika orang terdekatnya ikut terlibat. Akhirnya ia menyerah dan mulai bercerita melalui tulisan kepada Ali Baba, ketua dari Organisasi tersebut. Catatan demi catatan yang Pata tulis mulai mengungkapkan semua peristiwa kelam yang beririsan dengan masa lalu Pata sebagai seorang Bissu.

Saturday, 9 February 2019

Bookspirasi : Cewek baik masuk surga, cewek bandel “Gentayangan”


         Gentayangan adalah buku pertama dengan format "Choose Your Own Adventure" yang saya baca. Mungkin penggemar serial petualangan karya Edward Packard di era 90-an tidak asing lagi dengan bacaan seperti ini, di mana kita disuguhkan berbagai macam pilihan pada cerita dan setiap pilihan akan menentukan arah perjalanan cerita yang berbeda beda. Judul Novel ini agak mirip dengan acara TV “Uka-uka” waktu zaman saya SD dulu, namun buku ini tak sehorror judulnya. Saya sendiri juga agak bingung ini mau diklasifikasikan ke genre apa, apakah petualangan, detektif, misteri atau apa. Ahhhh bodo amat, kita nikmati saja dulu (Dasar manusia hobinya mengotak-otakkan).

Tokoh utama pada novel ini adalah "Kau", seorang perempuan kosmopolitan yang menjalin hubungan asmara dengan Iblis, kekasih romantis yang cintanya selalu datang bersama kekejian. Pada suatu ketika ia memberi hadiah sebuah sepatu yang membawamu _ tokoh cerita _ ke berbagai tempat di penjuru dunia, mencicipi pengalaman unik, absurd dan tak kau bayangkan sebelumnya.

Kuperingatkan dirimu, sepatu ini adalah sepatu terkutuk. Kau terkutuk untuk bertualang, atau lebih tepatnya gentayangan. Bernaung, tapi tak berumah. Di tempat kau berasal, hantu gentayangan cuma bisa beristirahat dengan tenang setelah dukun merapal mantra atau kiai berkomat kamit membaca Al-fatihah. Biarlah kutegaskan bahwa di sini tak ada dukun atau kiai yang terlibat, sebab ini permainanku, dan aku juga terkutuk.
Tapi mungkin ini sesuai dengan keinginanmu. Tiket sekali jalan. Dalam perjalananmu, kau akan mendengar banyak cerita, dan kau akan memungut hadiah. Satu hadiah untuk satu cerita, begitu kira-kira. Kau boleh memilih hadiah, juga jalan cerita sesuai keinginanmu. (Iblis Kekasih, hlm. 7-8)

Thursday, 26 January 2017

Bookspirasi : Tamasya ke "Perpustakaan Kelamin"


 Sekilas tentang Perpustakaan Kelamin

Novel ini bercerita tentang seorang tokoh bernama Hariang yang dibesarkan oleh seorang Ibu yang sangat mencintai buku. Di dalam rumah, ada sebuah ruangan yang sangat dirahasiakan oleh ibunya. Tiap kali Hariang menanyakan perihal tersebut, ibunya selalu mengelak dengan berkata “Kamu belum waktunya tahu”. Tak jarang perihal tersebut menimbulkan pertengkaran diantara mereka berdua.

Barulah ketika Haring beranjak Dewasa, ia kembali memberanikan diri untuk kembali menanyakannya. Dan kini Ibunya mengizinkan. Saat dia membuka ruangan tersebut, ia terkejut. Ruangan yang  selama ini  ia kira makam ayahnya ternyata adalah sebuah perpustakaan dengan ribuan buku  yang dikumpulkan dari hasil keringat ibunya selama ini. Uniknya, rahasia yang selama ini ditutupi oleh ibunya merupakan sebuah metode yang sengaja diterapkan sang Ibu.

"Merahasiakan ruangan ini dari kamu, adalah mutlak rencana ibu. Alasan ibu sederhana, biar kamu terus bertanya, merindukannya, lalu jatuh cinta kepada yang ibu rahasiakan itu, sesaat setelah kamu mengetahuinya”
“Ibu hanya ingin kamu jatuh cinta kepada buku, menganggapnya sebagai benda yang istimewa”
(hlm 10)

Sunday, 3 April 2016

Bookspirasi : Heksalogi "Supernova", Faynelih!!




 [26/2/16 - 10.00 AM]. Lagi lagi saya digelisahkan detik detik penantian untuk sebuah buku. Fokus untuk kerja buyar sudah. Tak henti hentinya saya memantau timeline di twitter. Beberapa akun sudah memposting-pamerkan kiriman paket novelnya, menyambut kelahiran si bungsu dari serial supernova “Inteligensi Embun Pagi”.

Pertemuan dengan Supernova

Mungkin ini pertama kalinya Samudra Inspirasi post tentang supernova, maka tak lengkap puas rasanya jika saya tidak bercuap cuap tentang asal mula mengenal Supernova.

Perkenalan saya dengan serial supernova di mulai dari petir yang lahir pada tahun 2004. Saat saya masih bocah SMP, saya mengenal Petir hanya dari sinopsis yang terpampang di sebuah Koran Asrama (Saat itu sedang mondok, kebetulan kami kurang lebih 60 orang penghuni asrama patungan untuk langganan koran tiap hari nya). Membaca sinopsisnya saya agak tertarik dan penasaran, Covernya pun Unik. Sayangnya saya sadar, kalau penasaran itu tak boleh saya pelihara, karena tak ubahnya saya dengan si pungguk yang merindukan bulan. Percuma merindukannya. Akses ke toko buku saat itu sangat sulit. Gramedia hanya ada di ibukota Makassar. Pemesanan online kayak sekarang pun masih asing di daerah saya saat itu.