Sunday, 15 July 2012

ILHAM MANSUR



Akulah ilham, dia adalah ilham, mereka juga ilham, bahkan engkaupun juga ilham. Karena Ilham itu adalah inspirasi. Dan  Semua makhluk adalah sumber inspirasi. Dari burung, Wright bersaudara terillhami untuk merancang pesawat terbang. Dari perampok, Al-gazhali terinspirasi untuk menghafal. Dari nasehat seorang bocah Imam Abu hanifah mulai sangat berhati-hati berfatwa. Dari  pemain bola kita belajar arti kekompakan. Dari air kita belajar istiqomah, dari anjing kita belajar kesetiaan, bahkan dari iblis sekalipun kita belajar kesabaran, ketekunan dan semangat pantang menyerah. Maka Tak salah jika Imam Syafi’i berkata, “ilmu itu menyebar, tak peduli siapa yang menyebar”.  
Mari sejenak berilustrasi!  oase di padang pasir yang tandus bagai nikmat dari segala nikmat. Ia menyejukkan bagi para pengembara. Ketika haus mencekik tenggorokan, dia tiba-tiba muncul sebagai pemberi harapan. Sayangnya air air oase itu terancam lenyap karena menguap oleh panasnya terik matahari. detik demi detik airnya kian menyusut. oase tersebut harus segera ditolong (mansur[1]) agar tidak lenyap. Dan si pengembara butuh wadah untuk menolong sisa-sisa oase itu.
Ketahuilah bahwa oase itu adalah inspirasi. Inspirasi yang baru saja kau temukan. Inspirasi (ilham) yang harus segera ditolong (mansur). Karena jika tak tertolong (Mansur), inspirasi (ilham) yang baru saja terlintas dipikiran akan menguap, lenyap, dan dilupakan. cara menolongnya dengan menyimpannya di wadah. Dan wadahnya adalah tulisan.
Kendati demikian, apakah inspirasi (Ilham) yang membutuhkan pertolongan?. Tidak. Sebenarnya, Justru engkaulah yang butuh. Engkaulah si pengembara itu. Yang melintasi gurun-gurun kehidupan menuju kematian. Oase inspirasi harus kau tolong agar engkau juga tertolong dari derita haus. Engkau membutuhkannya sebagi bekal perjalanan. makanya harus kau simpan dalam wadah. Karena ditengah perjalanan, dahagamu akan kembali lagi.  
Dan suatu saat isi wadahmu tak sanggup lagi menghilangkan dahagamu, maka saat itu engkau harus segera menemukan oase inspirasi  yang lain. Jika haus lagi, cari lagi. Begitu seterusnya! Dan biarkan terus begitu. Hingga suatu saat pencarian oase demi oase akan mengantarkanmu ke samudra inspirasi. Asal Ilham yang sebenarnya.
Ketika sampai di sana, akan kau rasakan nikmatnya bermandikan pengetahuan. Maka pada saat itu tugasmulah untuk menjadi sumber inspirasi bagi pengembara lain yang kehausan. Sebarkan wadah wadah inspirasi yang telah kau isi. Biarkan mereka menikmati segarnya karya-karya tulisanmu. Biarkan mereka tertolong dengan inspirasi yang kau dapat dari samudra. Karena dengan Ilham (inspirasi), mereka jadi Mansur (tertolong).



[1]  Mansur berasal dari kata nashara (نَصَرَ : menolong) kemudian dibawa ke isim maf’ul menjadi Mansur (مَنْصُوْرٌ : yang tertolong /yang ditolong/ yang mendapat pertolongan )