Sunday, 29 September 2013

Pentingkah bertemu Orang penting II

                Mereka begitu khusyu’ menyaksikan adegan sepak bola yang dipantulkan proyektor pada tembok kelas. Umpan-umpan yang akurat, penggiringan bola yang lincah serta tendangan keras yang berujung dengan getaran pada jaring gawang. Hanya beberapa menit berjalan, video tersebut kemudian di PAUSE. Kekhusyuan mahasiswa terhenti, Sang dosen melanjutkan kuliahnya.

"Sebutkan kata yang bisa mewakili video sepak bola tadi??" Tanyanya kepada seluruh mahasiswa.

beberapa detik terasa hening, hingga terdengar satu suara. "kerja keras Pak " jawab entah suara siapa.

"ada lagi?" matanya melirik ke yang lain

"Skill?" jawab yang lain karena merasa dilirik.

"masih ada jawaban lain?" tampaknya Sang dosen belum puas.

"saling percaya"

"Boleh, masih ada lagi?", Tanyanya lagi, seakan menantang seluruh peserta kuliah. Tantangannya disambut, semua berbondong-bondong memberi jawabannya.

"Berusaha"

"Pantang menyerah"

"Tekad membara"

"kelincahan"

"kepemimpinan"

"fokus"

"Sabar"

"kebersamaan"

"Achievement throught teamwork"

Kelas tak lagi hening, puluhan jawaban keluar dari mulut yang tadinya terkunci oleh rasa malu.

"Berlari"

"memiliki tujuan"

"peluang"

"ambil resiko"

Akhirnya, Suara demi suara mengundang suara lain untuk memberi jawaban.Tapi sayang, jawaban-jawaban mereka muncul bersamaan, sehingga sulit untuk mendengar satu kata pun. dan ini sebuah kebiasaan buruk jika hanya berani berpendapat ditengah kebisingan.

                Sang dosen menunggu sampai para mahasiswanya kehabisan kata. Ia jelas tahu siapa pengecut yang meggonggongkan jawabannya dbalik keributan dan siapa yang benar berani. Oh iyya, Aku lupa memperkenalkannya terlebih dahulu. Para mahasiswa memanggilnya pak Andang. Untuk semester ini, dialah dosen yang disenangi teman teman mahasiswa. Jika kuliah dimulai, kelas terasa seperti acara Golden way Mario Teguh. Penuh dengan video-video inspiratif dan quotes-quotes motivasi. Studi Kepemimpinan Islam, mata kuliah itulah yang dinanti-nanti setiap minggunya, meskipun sebagian mahasiswa menyebutnya mata kuliah golden way.

                Lanjut kuliah, Pak Andang menyebutkan satu kata, "PERAN". Aku masih bingung keheranan.

"Karakter leadership itu terlihat dari Seberapa banyak peran yang kita miliki dalam sebuah komunitas. Seberapa besar kita berdampak terhadap yang lain"

"maaf pak", potongku."Ketika seseorang terlalu menonjolkan perannya dalam sebuah organisasi, bukankah itu malah menjadikan yang lain merasa malas dan minder untuk mengambil peran". pernyataan ini jelas marupakan kesimpulan dari asil pengamatanku terhadap orang orang yang kehadirannya selalu mengundang teori konspirasi 4L. Apa itu?? Lu lagi lu lagi.

"Peran seseorang itu memiliki batasannya masing-masing. Jika anda diamanahkan sebagai keeper, jangan mengambil bertindak sebagai starter ataupun striker selama masih ada yang mengisi. perhatikan video tadi!. Semua pemain memainkan perannya, Keeper, Starter, Striker semua menjadi factor penentu terciptanya gol". Akupun mengangguk, Lumayan sepakat.

                Pak Andang mengajarkan bahwa kepemimpinan itu merupakan seni mempengaruhi orang lain. Easy to say, Difficult to do. Ini tak semudah dengan teorinya loh. Sungguh tidak mudah untuk menjadikan seseorang mau dengan senang hati melakukan apa yang kita perintahkan. Bahkan untuk diterima oleh orang lainpun kita kadang kewalahan. Tentunya kita harus tahu siapa mereka dan siapa diri kita.

Pak andang bilang "Semua harus dimulai dengan mengenal". Mengenal Siapa?, Yaitu mengenal diri kita sendiri. Orang yang bahkan tak mengenal siapa dirinya mana mungkin dapat mempengaruhi orang lain. Kenali diri, Terima diri, dan Cintai diri. Sehingga seseorang dapat mengaktualisasikan dirinya. Super Sekaliii.   

                Kuliah-kuliah yang dibawakan Pak Andang merupakan serial pengembangan diri bagi para mahasiswa. Sampai pada suatu hari, Ia memberikan tugas akhir yang tak kusangka membawaku kepada orang-orang penting berikutnya.

"Orang hebat pastinya berguru dengan orang hebat"

Mahasiswa masih menerka-nerka apa maksud perkataannya.

"Pada akhir semester ini, saya akan memberikan kalian tugas."

"Apakah itu?" semua menerka dalam hati

"Kalian akan ditugaskan untuk mewawancarai tokoh masyarakat"

Dibaginyalah kelompok-kelompok beserta para tokoh yang akan diwawancarai.

Namaku terpampang di dinding dengan tugas mewawancarai Ippho Santosa, seorang pakar otak kanan yang akhir2 ini bukunya selalu menjadi best Seller.

"Pas Sekali" Hatiku bergumam. Memoriku berputar, pertama kali ku kenal seorang Ippho ketika diprospek oleh orang MLM. Selepas dari seminar MLM, aku diajak ke toko buku.

"Kamu harus ngasah otak kanan lo'" Katanya. Sambil mendekati sebuah buku dengan judul 10 jurus terlarang. Lewat buku tersebutlah aku banyak tersengat motivasi-motivasi jitu untuk beraktualisasi diri _bukan untuk ber-MLM_.

Senang rasanya diberi tugas untuk mewawancarai Ippho Santosa. Mungkin ini sebuah takdir "pertemuan antara dua orang hebat", Narsisku dalam hati. Semangat ku beserta teman teman sekelompok berapi-api untuk menemui Ippho. Namun ketika keluar dari kelas, Semangat itu langsung menguap dan sedikit demi sedikit terlupakan, akhirnya virus-virus penundaan pun datang.

“ntar aja”, “kapan-kapan”, “minggu depan aja”

Hingga deadline tinggal 2 minggu lagi. Pas mulai digarap, ternyata Mas Ippho sedang diluar negeri. semua jadi bingung. Masa’ kami harus nyusul ke Amerika buat wawancara?

"Alternatifnya apaan nih, Lo’?", tanya si Andi yg paling cemas diantara kita. Soalnya nilai tugas memiliki porsi 30% dari Mata Kuliah.

Akhirnya berbagai saran pun datang, Muhlis nyaranin Mahfud MD, katanya sih sama sama orang Madura, preettt. Yang lain saranin Arifin Ilham, soalnya lokasinya dekat di perumahan Az-zikra. Ada juga yang menyarankan Hidayat Nur wahid yang namanya masih hangat setelah penilihan Gubernur DKI kemarin, Sang Raja.

Aku sendiri nyaranin Iwan fals dan H. Rhoma Irama. Alasannya?? Soalnya 2 orang ini Musisi Favoritku hehehe. Iwan Fals dengan lagu-lagunya yang Indonesia banget dan akupun Orang Indonesia. Serta Bang Haji dengan lagu dangdutnya yang banyak mengandung inspirasi. Yeahhh, Dangdut is the Music of my country.

Jika diwawancarai tentang kepemimpinan, dua orang ini  kayaknya pas banget. ORANG INDONESIA mana yang tak kenal dengan iwan fals?, ia sudah dikenal dengan syair satirenya yang begitu tajam menyinggung fenomena pemimpin di Negara ini. Dan Siapa yang meragukan Sang raja Dangdut yang lagi booming sedang mencalonkan diri menjadi Presiden.?

Namun Planing hanyalah planning. Alamat bang haji sulit didapat. Alamat Bung Iwan Fals udah ketemu, tapi sulit menetukan waktu berbarengan. Akhirnya, hari tinggal dihitung jari. “Gimana Dong???”

“Gimana kalau kita wawancara pak Hamzah Haz aja?”, Kata Haldi.

“Gua tau kok alamatnya, beliau sering solat di Masjidnya”, Tadaa. Tumben bocah ini ngasih solusi cerdas.

Akhirnya dua hari sebelum pengumpulan tugas, kami menuju TKP pak Hamzah Haz. Ternyata memang benar, kediaman beliau sama lokasi dengan taman kanak kanak dan masjid pribadi. Benar benar cocok buat orang yang pensiun. Aku masih tak percaya, orang Cempa bisa menginjakkan kaki di sini. Satu-satunya yang pling ku ingat tentang Hamzah Haz ketika penghitungan suara wakil presiden Indonesia disiarkan di TV. Saat itu aku masih TK dan belum terlalu mengerti apa-apa. Namanya begitu sering disebut dengan nada yang khas. "Hammmmzaaaa Hazzzzzz", jika nama itu disebut, Ayah dan Ibu juga ikut menulis satu Garis Turus diselembar kertas. Mereka juga ikut menghitung dalam momen bersejarah yang disiarkan pada TV tua kami

“Assalamu alaikum”, aku setengah teriak di depan pintu rumah Pak WaPres. Belum muncul jawaban, salamnya ku ulang lagi. Rumahnya cukup sederhana diruang tamunya terpajang foto beliau berukuran jumbo. Kata Haldi ruangan ini sering digunakan sholat jum’at jika masjid tak muat lagi menampung para jamaah.

Lama menunggu, akhirnya muncullah seorang bibi.

“maaf bu’ pak Hamzah Haz nya ada?”

“Bapaknya lagi istirahat, coba melapor dulu ke security,” katanya.

Tiba tiba muncullah sesosok makhuk yang berseragam  polisi. Sinis, cuek, sok sangar. Itu kesimpulan kami untuknya. Sejenak kami mengobrol dengannya  namun pada intinya kami tetap tak diizinkan untuk mengganggu sang Mantan wakil presiden. Akhirnya kuputuskan untuk tetap menuggu di Masjid berharap Pak Hamzah Haz datang sholat ashar.

Tadaa, firasatku benar. Bersamaan dengan masuknya waktu ashar, beliau muncul dengan Gamis putihnya. Sayangnya beliau langsung melakukan Solat sunnah,sehingga cukup segan  untuk mendekatinya. Lama kutunggu sampai sholatnya selesai, tiba tiba muadzin Iqomah. Apa boleh buat. Mungkin rezekinya pas setelah selesai solat ashar aja.

Kamipun shoat berjamaah dengan Sang mantan wakil presiden. Jujur, sholatku tidak sepenuhnya khusyu’ memiirkan kemungkinan yang akan terjadi. Soalnya pak polisi tadi melarang keras untuk menganggu beliau.

“Assalamu alaikum warahmatullah”, sholat pun usai. Beberapa orang mendekati Pak Hamzah Haz dan mengajaknya ngobrol. Akupun ikut mendekat. Selangkah demi selangkah terasa menegangkan. Tinggal 2 langkah lagi, Pak Polisi langsung memberikan lirikan penuh ancaman. Sifat pengcutku langsung keluar. oh tidak, tanpa perintah kakiku mundur secara reflex. Momentum berhargaku telah lenyap. Pak Hamzah Haz hanya melihat kami kemudian pergi.

Dalam perjalanan pulang dengan tangan hampa, aku tak henti-hentinya mengutk pak polisi tadi dan juga menyesali sifat penakutku. Padahal tinggal beberapa langkah lagi. “Harapan itu masih ada”,hiburku dalam hati. Pokoknya besok aku tak akan memperdulikan setiap teguran dan halangan.

Keesokan harinya Aku dan Putu datang kembali. Strategi kami rubah. Kali ini kami akan menghindari polisi itu hingga sholat ashar di mulai. Dan alurnya masih seperti kemarin. Namun ketika selesai sholat, pak Hamzah Haz langsung kudatangi dan menjbat tangannya yang sudah keriput. Pak Polisi hanya melihat kami dengan pasrah. Mau apa lagi, Pak Hamzah Haz sudah dalam genggamanku.hohoho

 Usai jabat angan, tangannya tak langsung kulepas, sambil berbisik mantap, “Pak, ada waktu gak? Buat wawancara. Yah, kurang lebih 5 menit”. Benar benar mantap. Sang mantan wakil Presiden akhirnya menyetujui, bahkan menunda dulu sholat sunnah rawatibnya.

“Ini wawancara tentang apa?”

“kepemimpinan pak!”

Belum ku mulai pertanyaannya, Beliaun sudah berbicara duluan. mencurhatkan segala ironi yang terjadi di Negeri Ini.

“Siapa bilang negeri kita miskin harta? Buktinya ada banyak kekayaan alam di negeri ini”

“Dan aneh juga jika bangsa ini dikatakan miskin akhlak, dikarenakan mayoritasnya dihuni oleh penduduk muslim. ”.

Bukan miskin harta bukan juga miskin akhlak, terus apa dong?

“Kita ini miskin Kaffaah” tegasnya.

Kami hampir tertawa, benar-benar majas yang menusuk. Mengapa harus disebut miskin Kaffah? Apa sebab Pak Hamzah Haz terlihat begitu pesimis. Silahkan cek dokumentasi wawancara kami.

Usai wawancara, kamipun lega bisa menyelesaikan misi dari Pak Andang, tinggal nyiapin movie slide dan presentasinya.  Sepulang dari rumah pak Hamzah, orang tua di kampung langsung ku kabari, bahwa anaknya di tanah rantau baru saja bertemu Mantan wakil Presiden Indonesia. Aku yakin, ini bakal jadi trending topic buat para tetangga sebelah rumah, hehehe.  

Lima menit yang diluangkan beliau akan terus tersimpan di memoriku. Dari obrolan beliau, satu hal yang kembali ku mengusik pikiranku. Ternyata generasi muda saat ini masih memikul PR yang sangat banyak. 


Si Ganteng bersama Pak Hamzah Haz

 

Post a Comment