Thursday, 4 December 2014

Gunung Gede, Rahim Pendakianku



          Setapak demi setapak batu bercampur tanah ku jejaki demi sebuah puncak. 2 jam telah berlalu, sejauh ini letihnya masih biasa saja. Bukannya sombong, tapi  kaki ku memang terlatih selama dua tahun menapaki beribu kali anak tanggga Andalusia. Dalam sehari minimal ku lewati ±300 anak tangga hanya untuk mondar mandir, naik turun ke WC dan ke bawah. Hitung saja dalam 2 tahun ada berapa kali? (300 x 365 x 2 = 219000). Sayangnya punggungku beda cerita, tekanan Carrier 80 liter yang menempel pada punggung memaksaku untuk beristirahat beberapa kali. Padahal isinya tidak sebanding dengan para pendaki lain yang isinya kompor, tenda dan segala macam.
                Ini adalah pendakian pertamaku. Sebagai pemula aku memilih Gunung Gede Pangrango sebagai pemecah keperawanan pendakianku. Kata mereka gunung ini lumayan cocok buat para newbie. Aku dan Joni bergabung bersama rombongan sahabat sahabat baru dari Fakultas Ekologi Manusia IPB serta dari ITS dan UNESA. Hampir semua cowoknya sudah sering dan berpengalaman naik gunung. Beberapa di antaranya adalah monster; Bang Alam, Gustav, dan Yudo. (untungnya ada Joni di sini. Jadi bukan aku sendiri yang cupu).

                Rombongan kami dibagi menjadi tiga tim, Tim Advance, tim 1 dan tim 2. Tim advance berangkat terlebih dahulu karena bertugas memasang kavling tenda untuk camp kami. Kemudian menyusul tim 1 lalu tim 2. Aku berada di tim 1 dipimpin oleh Gustav sedangkan Joni berada di tim 2 dipimpin oleh Bang Alam. Pada awalnya kedua tim berjalan terpisah namun karena keseringan dan kelamaan istirahat tim 2 menyusul. Ku lihat Joni begitu bersemangat bahkan masih sempat meneriakkan yel-yel. Pas bertemu, ia berbisik ditelingaku,
“Lo’, Gue punya gebetan baru”. Damn it! Kini kutahu dari mana energi dan semangat itu berasal.
“Yang mana Jon?”, balasku berbisik.
Lirikan matanya menuntun pendanganku pada seorang gadis berkerudung merah jambu. Kepo demi kepo, namanya Rima.
                Setengah perjalanan stamina kami mulai ngedrop, bahkan beberapa cewek mulai tak sanggup melanjutkan perjalanan. Di tim 1, Kulihat Evelin            sudah tak kuat untuk mendaki. Untungnya Gustav sebagai ketua Tim berbaik hati membawa cariernya. “Gila ni bocah”, Gumamku dalam hati. Carier milik dia saja tidak sebanding dengan punyaku, sekarang dia tambah lagi bawaannya menjadi dua Carier. Oh man, sisi kejantanan ku merasa tersinggung. Tapi yang sedikit menarik perhatianku mereka berdua seringkali bergandengan tangan. Kepo demi kepo, ternyata mereka adalah pasangan kekasih. Shit!, Pantes kuat, lagi-lagi soal energi Cinta.
   
             Kondisi stamina yang berbeda beda memaksa kami terpisah dari tim, Gustav yang sedang melambat karena 2 carrier yang di bawanya, membiarkan kami meninggalkannya. Dan kini kami tinggal bertiga di depan. Aku, Widya, dan Fitri. Selain kami ada banyak lagi rombongan pendaki lainnya, mereka saling menyapa tiap kali melewati pendaki lain yang sedang beristirahat dipinggir track. Kami bertiga mengikuti rombongan lain yang berjalan di depan. Widya sempat terkena ranjau, Ketika berjalan dibelakangnya ku lihat adonan kuning melekat pada pantat cariernya. Kepo demi kepo, itu adalah pup  seseorang, entah ia dapat dari mana?. Kwkwkwk, Kalau itu Joni pasti udah kucibir habis-habisan.

               Akhirnya kami bertiga berhasil keluar hutan, disuguhi pemandangan dataran luas yang ditumbuhi tumbuhan edelweis. Suuugooiiii, indah bener. Wilayah ini yang disebut Surya Kencana (Timur), sayangnya saat itu penuh kabut dan angin begitu kencang membawa titik-titik air menerpa wajah kami. Kami mencari tenda rombongan namun tak kunjung ketemu. Hingga kulihat para rombongan lain meneruskan perjalanan menuju arah barat. Kata Fitri tim advance memasang tenda dekat sumber air. Akhirnya ku tanya letak sumber air yang dimaksud ke pendaki lain. Ternyata berada di Surya Kencana Barat. The journey is not over yet.

                Hampir sejam kami melintasi dataran Surya Kencana hingga akhirnya menemukan puluhan tenda berjejeran. Tenda kami yang mana?, Kabut semakin tebal. Fitri dan Widya berteriak memanggil nama salah satu tim advance, “Enggal, engaaal, enggaaal”.  Beberapa kali mereka berdua mendekati tenda yang dikiranya tenda rombongan kami, namun salah. Fatamorgana. Aku pun ikut teriak meskipun tak tahu orangnya yang mana?, “Enggal, enggaaalll”. Tiba tiba suara lain mulai menyahut. Widya dan Kurnia terlihat senang dan menuju arah suara itu. Yeeeaaah, Touch down. Kamipun sampai dan disambut para tim advance.

                K’ Lidya langsung menyiapkan minum hangat untukku. Lega tiada tara, namun episode ini belum berakhir. Angin semakin kencang tanpa kompromi. Pendakian ini memang berada di waktu yang kurang tepat.
                                                ***************************************
                Surya Kencana ternyata sudah mempersiapkan pertunjukan untuk para tamunya yang datang di waktu yang salah. Kabut dan gelap malam menjadi satu, rintikan hujan dihempas angin semakin kencang. Sang dingin mulai merayapi kulit sedikit demi sedikit. Boro-boro menatap indahnya bintang, keluar tenda saja aku sudah tak bergairah. Kami cuma bertiga di tenda, aku, Joni dan Vani.  Ku lihat Joni menggigil seperti orang kesurupan. Ku ajak ngobrol, tak digubrisnya. Ia sudah berasyik masyuk dalam dunia kedinginannya. Dalam hati aku tersenyum hampir ngakak malah, karena terlintas memori kemarin sore di sebuah tempat penyewaan alat camping.
Ku raih kantung tidur besar itu dari si Pemilik Toko. “Yes, akhirnya sleeping bag udah ada. Kamu gak nyewa Jon?”
“Gak ah, gue pake sarung aja”
“Entar dingin loh, musim hujan lagi, Awas yah kalo ngerepotin!”
Joni cuma tersenyum remeh.

                Ternyata kejadian juga.
Hermann Buhl ada benarnya, “Mountains have a way of dealing with overconfidence”. Mendengar gigilan si Joni, ku gelar sleeping bag diatas matras dan ku pasang kos kaki bola untuk mengurangi rasa dingin, pastinya itu untukku bukan untuk Joni. Vani juga sudah bersiap untuk tidur namun dia tidak mengeluarkan sleeping bag.
“Kamu gak make SB van?”, Tanyaku
“Gak, males ngeluarinnya.”. Jawabnya dengan santai seolah udah biasa dengan cuaca dingin seperti ini.
           Vani memang sempat cerita bahwa dulu pernah ke Bromo dan dinginnya lebih menusuk dari ini. Akupun berasumsi kalau dia memang udah terbiasa. Namun tiba-tiba Vani meminta trash bag kemudian memasangnya dari ujung kaki layaknya sleeping bag, kemudian menutupinya dengan sarung. Hm, Sepertinya bocah ini gak enak masang sleeping bag dekat Joni. Faktor Solidaritas, may be. Kata beberapa pendaki, sifat asli seseorang akan terlihat ketika naik gunung. Kalau aku sendiri sih BODO AMAT ama Joni. Hihihi. Bagiku, Si Joni perlu diberi pengalaman lebih. Akhirnya Ku masuki kantung tidurku sambil mengucapkan “Good night Jon! Ku tunggu ceritamu besok pagi.” Kwkwkwkw.
************************************* 
“Jon, bangun Jon, udah pagi nih , Lu gak mati kan?”.
“bwxsbwsw, dingin banget lo’”.
                Kwkwkwkwkw, akhirnya ngaku juga. Setelah sholat subuh dan beres beres, kami menuju dapur. Di sana sudah ada K’ Lidya, Widya, Vani, Awa’, dan Lainnya. Rintikan hujan belum bosan menyambut kami, di bawah tenda dapur kami menikmati sarapan nasi hampir tidak anget, tempe goreng dan kornet yang udah dibuat oleh para chef. Belum kenyang, widya mengeluarkan tekwan yang udah dimasak. Awa’ juga sedang memasak air yang diambil dari genangan air hujan diatas cekungan tenda dapur.
                Mereka semua tak hentinya menceritakan pengalaman masing masing tadi malam. Ada yang tendanya roboh ditiup angin tapi tak dihiraukan ama yang lain, ada yang tendanya dimasukin rembesan air sampai sampai sleeping bag dan pakaian pun ikut basah. Ada yang dalam satu tenda malah tidur berenam sampai-sampai mati gaya. Woowww, kayanya malam ini Cuma aku yang tidurnya nyenyak. Anak sholeh memang disayang Allah. Hihihihihih.
                Sudah jam 9 pagi, hembusan angin dan hujan belum pergi. Padahal seharusnya kami sudah menuju puncak. Setelah didata ternyata beberapa orang saja yang berniat ke puncak. Aku, Bang Alam, Rahmi, Dila, Rima, trio ITS, Fatra, Nugie. Awalnya Joni gak mau. Tapi mungkin setelah melihat kehadiran seseorang dalam tim ke puncak, dia pun ikut. Dan dengan coolnya berkata, “Buat apa mendaki gunung kalau tidak sampa puncak”. Yeeaahh, Lu keren banget bro!!. Tim sudah lengkap, Jas Hujan telah dipasang. Lets’ goooo!!
                Di Surya Kencana memang agak badai. Namun setelah memasuki hutan, hujan mulai reda. Beberapa pendaki yang sedang turun juga bilang bahwa diatas lumayan cerah. Pendakian kali ini cukup santai soalnya tanpa carier. Kurang dari sejam kami sudah mencapai Puncak. Woooww, Suggoiiiiii. Ternyata benar cerah, sayang seribu sayang kabut masih tebal sehingga kawah dan Gunung Pangrango masih bersembunyi dibaliknya. Tapi keindahan puncak gede masih bisa kami nikmati.

                Dan ada sebuah quotes _entah dari mana_ yang cukup populer dikalangan para pendaki, “leave nothing but footprints, take nothing but pictures, kill nothing but time” Again and again, kamipun bernarsis ria.    

         

                Puas menikmati puncak, kamipun kembali turun ke Surya Kencana, membereskan tenda, carier dan alat camping lainnya. Awalnya pendakian ini akan turun lewat jalur Cibodas, katanya disana ada air terjun dan Kandang Badak. Sayangnya kami batalkan berhubung cuaca sedang ekstrim dan beberapa peserta mulai ngedrop. Akhirnya Kami turun lewat jalur pendakian sebelumnya. Gunung Putri. Sebelum turun aku dan Joni sempat bertemu rombongan HAIHATA (Pecinta Alam di Kampusku), mereka membawa 60 peserta. Ku lihat Azam, may, menun, maysarah, dan Zila sedang mendirikan tenda. Putu dan Hanif baru mau mengisi botol yang kosong.

                Turun pun tak kalah melelahkannya, tapi lebih cepat dibanding pendakian. Rombongan kami start pukul 15.00 dan sudah berkumpul dibawah pukul 20.00. Alhamdulillah kamipun sampai dengan selamat. And Thanks very much many more more more  buat teman-teman Komunitas Simpul mati yang sudah welcome mengajak ke gunung Gede.  

****************************************


Petuah dari Gede

  • Jangan terlalu meremehkan perlengkapan yang disarankan dan diwajibkan oleh pendaki yang berpengalaman. Terutama SB, Jaket Water/ Wind Proof, Matras, Trash Bag, Head Lamp, Kos Kaki cadangan, Sepatu, Ponco/Jas Hujan.
  • Bawa manisan seperti madu atau Gula Aren. Lumayan buat tambah tenaga. Minuman bersoda juga bagus, segarnya bakal terasa 100 kali ketika sangat lelah.
  • Periksa Kondisi cuaca sebelum pendakian. Dan jangan ragu untuk minta saran sama pendaki yang sudah berpengalaman.
  • Kalau kamu belum bisa membawa 2 carier sekaligus dan pacar mu seorang pemula yang lemah. Jangan nekat membawa pacar naik gunung. Ujung-ujungnya kamu akan jadi Porter. Tapi kalau sanggup, itu malah jadi kesempatanmu sebagai ajang pembuktian.
  • Sebelum berangkat, minta doa restu dari orang tua.
  • Jangan pernah pup dekat sumber air dan area yang sering dilalui, apa lagi pup di dalam tenda.  
  • Again and again "Leave nothing without footprint". Sampahnya dibawa pulang. Kalau males, makan saja sekalian.
Post a Comment