Thursday, 25 December 2014

La Garetta’ #5 [Kegantengan Hanya Ilusi]



              "Selamat Malam dan Salam pengorbanan. Selamat datang bagi anda yang sudah merasa jenuh dengan ketidakadilan. Bagi anda yang kejelekan rupanya tidak pernah mendapatkan apresiasi sedikitpun dari mereka. Dengan Tema kegantengan hanyalah ilusi, seminar kali ini akan mengobati luka dan melapangkan dada anda, dan menambah optimisme dalam berburuk rupa. "
“Apakah anda siap untuk ikhlas mewarnai dunia?”, Teriakan pembawa acara mengundang respon teriakan ribuan peserta yang menggetarkan dinding dinding auditorium. Saking semangatnya gigi tongos itu hampir tersangkut dikepala mic. Kilauan cahaya lampu sorot terpantul dari kepala botaknya. Dan tampaknya justru itu yang membuat dirinya lebih percaya diri.

“Kawan kawan senasib, kegantengan hanyalah ilusi. Mengapa?” Ruangan membisu.  

“Kegantengan yang melekat pada mereka hanya sebatas persepsi yang dihasilkan dari alat ukur perbandingan. Pernahkah anda merasakan sebuah keanehan saat jalan bersama para makhluk Gagah itu?”


                Satu tangan terlihat mengacung di tengah ribuan kepala. disaat sang pengacung berdiri, spot light langsung mengarah padanya. Nampaklah wajah yang separuh ditutupi rambut gondrong dan dihiasi ratusan komedo.

“Iya, saya merasa bertambah jelek ketika berjalan dengan mereka padahal sebelum keluar rumah saya sudah percaya diri”

“Hm, lebih tepatnya mereka yang bertambah ganteng, kawan. Prinsip Komparasi. Pada dasarnya wajah mereka itu biasa biasa saja, namun karena anda yang kebetulan sedikit tidak lebih gagah berada di dekat mereka, maka pesona mereka yang terpendam disadari orang. Anda mungkin tampak semakin jelek dan mereka semakin gagah tapi ingat Anda lah sumber pesona mereka.

             Ribuan tepuk tangan dan sorakan kembali menggetarkan auditorium. Pembawa acara bergigi tongos melanjutkan.

“Seperti Yin dan Yang. Cahaya dan kegelapan. Panas dan Dingin. Baik dan buruk. Begitupula dengan Ganteng dan jelek. Merupakan sebuah kesatuan yang berlawanan namun saling melengkapi. Ganteng tak akan terdefinisi tanpa pembanding yang bernama jelek. Tak ada jelek, maka ganteng tak ada. Eksistensi kita adalah kebutuhan para manusia gagah itu”

                Sorakan kembali menggila. Satu tangan lagi kemudian teracung diantara ribuan kepala. Dan lagi lagi spot light mengarah padanya dan tampak seorang berkaca mata hitam dengan masker menutu separuh wajahnya.

“Ada apa saudaraku? Gigi ompong, mulut monyong, bibir memble, Mengapa harus ditutupi? Bunuh rasa minder itu!, Bangkitkan optimisme!, Pancarkan pesona kejelekanmu!, Because our ugliness is the contributor for the beauty of the universe

              Si pengacung tangan masih diam, kemudian melangkahkan kakinya melewati setapak kecil menuju panggung. Ribuan dahi mulai berkerut, ribuan mulut saling berbisik. Si pengacung mendekati sang MC dan meraih mic-nya.

Yeah, I appreciate that You are the contributor for the beauty of the universe”. Audiens kembali berisik dengan tepuk tangannya.

“tapi siapa bilang orang ganteng menambah kejelekan orang jelek?”. Ia membuka kecamatanya. Dari matanya saja ribuan audiens sudah mengenal pesona itu, pesona surgawi yang sudah jadi momok bagi mereka. Pembawa acara mulai khawatir dan menelan ludahnya. Ia tak sanggup membayangkan akan seburuk apa dirinya jika berdekatan dengan orang ini. Dan ketika masker dibuka, semua mata terbelalak. Ilo Sang Manusia Gagah menampakkan dirinya. Tapi bukan itu keajaiban sesungguhnya. Mereka melihat 2 manusia Gagah di atas panggung. Inilah kegantengan diatas kegantengan. Kegantengan yang menjadikan sekelilingnya ikut ganteng. Kegantengan yang merobohkan dinding dinding logika perbandingan. Sang pembawa acara terkejut, baru kali ini ia merasa orang-orang  menatapnya sekagum itu.

Post a Comment