Tuesday, 1 September 2015

Skripsianti



Berikan alasan mengapa aku harus mengejar-ngejarmu

Engkau cantik? tidak juga.
Engkau imut? heh, siapa bilang?
Engkau pintar? sebagian persepsi mengiyakan.
Engkau menguntungkan? sebagian persepsi menidakkan


Aku tak tahu mengapa makhluk seperti dirimu harus ku perjuangkan.
Mau bagaimana lagi?
Aku terpenjara dalam sebuah sistem yang mengharuskanku mengejarmu, mendekatkan diri kepadamu, berdamai denganmu bahkan mencintaimu.


Katanya engkau selektif, hatimu hanya untuk mereka yang tekun, pantang menyerah dan menjauhkan diri dari kemalasan.
Ternyata bukan cuma itu, syarat mu masih banyak, penuh dengan prosedur yang tak ku mengerti.


Kapan yah kita pertama kali bertemu?. oh ya aku ingat, semester tujuh di sebuah taman metolit.
Engkau menjadi pusat perhatian, buah bibir yang rasanya tak pernah habis.
Mereka semua mulai berpikir keras, apa judul yang pas untuk spesies seperti dirimu.
Konon memang seperti itu, engkau baru mau diajak bicara jika sudah dijuduli.
Judul itu layaknya rayuan dan pujian.  Harus segar, cetar dan menggelegar.


Pengaruh, pengaruh, pengaruh.
pengaruh bla bla bla terhadap bla bla bla.
Saat itu wawasan polosku hanya tahu kata itu untuk sebuah judul.
Padahal banyak kata lain, seperti  "Dampak",
Analisa Dampak bla bla bla terhadap bla bla bla. Jiaaahhh, sama saja.


Sepertinya aku butuh mak comblang untuk menjembatani hubungan kita.
Bu Tutut dan Pak Djazuli, dua orang ini lah yang ku percaya bisa membantu.
Dan instingku memang tepat. Berkat arahan dari mereka, hubungan kita terjalin.
Aku mulai mengenal mu dengan baik. Bagaimana dengan dirimu?. semoga saja ini tak bertepuk sebelah tangan.


Alhasil, frekuensi pertemuan kita begitu stabil.
Meskipun selalu aku yang duluan rindu.
Kita muhrim atau bukan , itu tak penting lagi
Lagian, saat aku bercengkrama denganmu, yang menggebu bukanlah libido seksual melainkan libido intelektual.
Karena ku tak tahu kapan terakhir kali mengobok obok buku-buku literatur sebanyak ini.
Hanya bersamamu aku rela menyentuh jurnal-jurnal ilmiah yang dulunya aku alergi.


Suatu hari, kedua mak comblang ku kembali menyarankan agar hubungan ini harus kuteruskan ke tahap seminar proposal.
Tahukah engkau bahwa proposal itu serapan dari negeri Ratu Elizabeth? artinya LAMARAN.
Jujur, aku belum siap. Namun tetap Kulakukan.


Lamaran tidak sehoror  yang ku bayangkan, tapi
Engkau dan wali mu tetap mensyaratkan sebuah mahar, agar hubungan ini tetap dilanjutkan.
Mahar tidak cuma aset finansial, tapi juga aset intelektual dan spiritual
Tahukah kalian? Mahar yang harus ku penuhi itu berupa  data dengan hasil olah dan analisa teruji di sertai landasan syariah yang otentik.


Aku mulai jenuh dengan hubungan ini tiap kali mengingat mahar yang engkau minta.
Bertemu denganmu pun aku mulai enggan
Meratapi data tak tertata, tahap analisa masih jauh bulan dari madu.
Ujung-ujungnya aku berselingkuh dengan sosok anime yang jauh lebih menghibur ketimbang dirimu.
Sosok anime itu semakin memperlebar jurang diantara kita.


Lagi-lagi aku beruntung  tetap diwaraskan oleh malaikat yang ku panggil ibu
Suaranya terus berbisik agar aku tetap memperjuangkanmu
Kerangkeng kemalasan itu berhasil ku lepas, ku merdeka dari ilusi zona nyaman
Jari-jari ku kini kembali menari di atas keyboard, mencoba berdamai dengan segala kompleksitasmu
Yang aneh dan lucu, semakin ku menenggelamkan diri dalam kerumitanmu, semakin ku teguk nikmatnya.
Inikah cinta?. Jiaahhhhh


Dan hari itu pun tiba,
dihadapan wali mu aku diuji.
Padahal aku merasa sudah gagah, tapi mereka belum puas.
Banyak yang harus direvisi. Datanya, metodenya, ejaannya dan
RAMBUT
Apa? Rambut?
Tanya Kenapa? Jangan berkilah! Pokoknya rambut.
Dan ku penuhi semua itu.


Hari ini adalah hari pembebasan
Engkau telah ku raih, ku miliki, ku banggakan, dan ku pamerkan
Dan jangan tanya apakah aku masih cinta!
Karena daya tarik mu hanya  berwujud tantangan. Tidak lebih.
Penaklukkan berarti habisnya pesonamu
Untuk apa ku kejar lagi?
Mungkin saat ini kehadiranmu hanya sebatas koleksi
Sebagai pemuas keangkuhan intelektualku.


Babakan Madang, 1 September 2015


Mungkin saking Jomblonya, skripsi pun diwanitakan. hihihihihi

                                                                                          
Post a Comment