Sunday, 31 May 2015

La Garetta’ #8 [Mantra]

Ritual camping pada umumnya, duduk mengelilingi api unggun adalah aktivitas fardhu yang tidak boleh tidak ada. Dan kali ini masing-masing harus berkontribusi memberikan hiburan. Rio dan Ria dangan tarian sajojonya. Galih dengan finger dancenya yang memukau. Jek dengan cerita horornya yang membuat semua orang menahan kencing, menuggu hingga ada yang mau ke toilet duluan. Mojo dengan humor garingnya yang letak kelucuannya hanya ada pada ketidaklucuannya. Sisanya menyumbangkan berbagai macam lagu. Dari Hollywood hingga Bolliwood. Dari keroncong hingga Pop hong kong. Dan Andi dengan petikan gitarnya  menemani hampir semua lagu-lagu malam itu.

Malam semakin larut. Kini giliran satu orang, peserta baru yang hanya ikut-ikutan grup camping sekedar melepaskan dirinya dari hingar bingar suasana megapolitan. Awalnya ia enggan, namun yang lain memaksanya berdiri di tengah lingkaran yang tak jauh dari api ungggun.


“Sebelumnya perkenalkan nama saya Ilo’”

“Hai Ilo’,”, semua menyapa secara bersamaan.

“kali ini saya akan menyumbangkan sebuah lagu”

“Yaaaahhh”, semua tampak kecewa.

“Dari tadi sudah kebanyakan lagu, penampilan terakhir harus beda dong.”, kata salah seorang entah siapa namanya. Ilo’ mulai berpikir keras. 

“bagaimana kalau saya akan bercerita”

“asal jangan cerita horor aja”, kata Ria dan semua sepakat.

Ilo’ menarik nafas perlahan berkali kali dan semua
masih menunggu kata pertama yang akan diucapkannya.

“Sewaktu SMA, Saya pernah jatuh cinta dengan seorang adik kelas”

“Ciyeee”, goda mereka.

“Tapi sayang, dia sudah punya pacar”

“Owwhhhh”

“Sakitnya tuh di sini”, sebagian tertawa dan sebagian lagi menganggapnya garing.

“Saya sempat galau. Dan suatu ketika muncul seorang guru spiritual yang datang memperkenalkan diri dan mengajarkan saya sebuah mantra”

Mereka mulai serius

“Dia menyarankan agar tiap subuh saya harus mengucapkan mantra tersebut sambil membayangkan wajah orang yang saya taksir. Awalnya saya tampak ragu, khawatir kalau itu adalah perbuatan syirik. Namun Sang Guru menjelaskan maknanya, bahwa ini tak lebih dari sekedar do’a. Selama saya masih bergantung pada Tuhan maka itu bukan lah syirik. Akhirnya saran itu saya ikuti”

“Dua tiga minggu berlalu, efek dari do’a itu mulai terasa. kami sangat sering sms an, telfon-telfonan, dan sapa menyapa gak jelas layaknya para ababil. Hingga datang suatu hari ketika dia tak lagi memikirkan pacarnya dan memanggil ku sayang.”

Ekspresi wajah mereka berada dipersimpangan antara ragu dan percaya. Tapi mereka nampak menunggu mulut Ilo’ berbicara.

“Bersambung”, kata ilo singkat.
“Yaaahhhhh”, mereka kesal, rasa penasaran mereka dipermainkan.

“emang do’a yang diajarin Guru lu apaan sih?”, tanya si mojo yang sepertinya mewakili rasa penasaran yang lain.

“Itu tidak penting”, jawab Ilo’ singkat lagi.

Mereka semakin kecewa. Ria dan Rio tampaknya sudah ingin beranjak masuk ke kemah.

“Tapi saya akan menunjukkan mantra baru. Beberapa bulan yang lalu saya mempelajarinya dari dari seorang Guru[1] lain”

Mereka kembali antusias. 

“Mantra ini belum saya coba. Kebetulan sekali malam ini Jum’at Kliwon yang bertepatan dengan tanggal kabisat, ini waktu yang tepat untuk membuktikannya. Ada yang mau jadi volunteer??”

Mereka saling menatap satu sama lain. Seorang gadis berambut panjang berdiri dan mendekat. Ia mengangguk bertanda siap. Ilo’ mengeluarkan botol kecil dari sakunya, dan meneteskan sesuatu  ke dalam mangkok. Ia berteriak “Lima percik mawar”. 

Tangannya merogoh kantung belakang dan mengeluarkan “Tujuh sayap merpati”

“Sesayat langit perih”, 5 jarinya menunjuk ke atas

“Dicabik puncak gunung” kemudian menunjuk kebawah

Dipetiknya putri malu setengah layu yang tak jauh dari api unggun. “Sebelas duri sepi”, teriakannya semakin keras.

Tanganya kembali merogoh sebatang lidi dari kantong celana, Ia membakarnya hingga berasap. Kemudian setangah berbisik  “Dalam dupa rupa”.   

Dalam saku yang lain ia mengeluarkan serbuk “Tiga menyan luka”.

Semua resep ramuan itu telah bersatu padu dalam mangkok yang diselimuti gumpalan asap , Ia pun berdiri di depan wajah Si wanita dan kembali berkomat , “Mengasapi duka”

30 detik kemudian “Puahhh”, asap mengepul itu ia tiupkan ke wajah si wanita.

“Kau jadi kau.”

“Kasihku!!”

Wanita itu membuka mata, tersenyum dan dengan tangan terbuka menawarkan pelukan pada Ilo’. “Apakah mantranya berhasil?”, semua pikiran bertanya seperti itu. Ilo juga. Namun, tiba-tiba tawa si wanita itu meledak dan agak terdengar meledek. Ia pamit untuk tidur. Semua orang sudah bisa menarik kesimpulan.

“Teman teman sekalian”, Ilo’ ternyata belum selesai.

“Mungkin kekuatan magis seperti itu tak ada. Tapi Saya percaya pada daya magis dari kekuatan sugesti.[2] Kekuatan sugesti lahir dari tekad dan keinginan. Sayang, malam ini tekad saya lah yang lemah”. Pernyataan konyol seperti itu, siapa yang mau dengar. Tapi setidaknya mereka sudah terhibur. Aksi mantra itu mungkin akan menjadi bahan lelucon mereka untuk beberapa hari.

Dalam kelarutan malam, ternyata hanya satu orang yang tak bisa tidur saat itu. Jantungnya  terus berdebar. Nafasnya tak beraturan. Rekah senyumnya begitu awet, namun ia sembunyikan di balik sleeping bag nya. Wanita itu benar-benar jatuh cinta.




[1] Bernama Sutardji Calzoum Bachri
[2] Kalimat ini dikutip dari sebuah novel “negara ke lima” karya Es Ito.