Sunday, 19 April 2015

La Garetta’ #7 [Selebritus Palelo Politicus]

Wanita bukanlah satu satunya makhluk yang sering kali mengincar Ilo’. Pengincarnya sampai pada tataran makhluk bernama Homo Politicus, spesies yang sudah terbiasa berenang di sungai yang kotor dan dianggap menjijikkan oleh mereka yang sudah lelah dan menyerah menggantungkan harapannya pada para pemimpin negeri ini.

Banyaknya pengikut Ilo’ menjadi was was tersendiri bagi tiap partai politik. Was - was jika ia akan digaet oleh sang rival atau suatu saat menjadi rival. Sang politikus tentu tahu betul bahwa kepemimpinan adalah seni mempengaruhi. Bukan tentang Kursi. Begitu banyak orang yang tak memiliki jabatan namun ia mendapat posisi yang istimewa di hati masyarakat. Kata-katanya menginspirasi dan memiliki efek dogma bagi pendengarnya. Suatu saat pengikutnya akan bertambah banyak dan kompleksitas mendorong mereka membentuk struktur dan organisasi tersendiri. Orang seperti ini akan sangat berbahaya jika tidak segera diikat dalam lingkaran mereka.

“Maaf, tapi menjadi wakil rakyat tidaklah semudah menggoreng serbuk rengginang.”, entah apa maksud perumpamaan itu, tapi Ilo' mencoba menunjukkan ketegasannya kepada Sang politikus yang mencoba meminangnya menjadi Caleg.

“Banyak aspek kompleks yang membutuhkan kapabilitas yang tidak ada dalam diri saya. Memangnya partai anda sudah kekurangan stok yang lebih berkualitas?, bukankah masih banyak  kader-kader senior yang memiliki kapibilitas?”, tegasnya.

“Urusan kapabilitas, integritas, konektivitas, senioritas dan tas tas lainnya, biar kami yang tangani. Yang sekarang kami butuhkan adalah popularitas dan elektabilitas anda, yang tak seorangpun dari kami memiliknya”, lobi Sang Politikus.

“Owhhh, Sebenarnya yang anda cari dari saya bukanlah kepemimpinan melainkan kemenangan suara semata. Trus apa bedanya saya dengan si Unyil, si Cepot, si Susan dan boneka-boneka lainnya?”.

“Itu tidak sepenuhnya benar. Anda bukan boneka. Dari lini kultural dan moral, kami butuh kepemimpinan anda sebagai social control. Kami sadar bahwa sebagian besar penduduk yang juga penggemar anda lebih senang mendengarkan celotehan anda dibandingkan seruan kebijakan kami. Fans anda ini sudah membentuk budaya dan peradaban. Patung dan gambar anda di mana mana. Iloisme dan gaya hidup anda telah menular ke mana mana. Bahkan mungkin satu abad mendatang orang akan lebih mengingat selebritis nasional seperti anda dibandingkan pahlawan nasional. Kepemimpinan strukturalnya, serahkan pada kami.”

“Penjilat”, bisik ilo’ dalam hati. Tangan imajinernya melemparkan pasir _yang juga_ imajiner ke wajah sang politikus. Ilo’ berpikir sejenak. Untuk memasuki medan seperti ini setidaknya ia perlu memegang 3 hal. kesempatan, kesiapan, dan kepentingan. Satu dan dua rasanya telah terpenuhi, namun unsur ke tiga yang belum.

“Kalau begitu berikan saya alasan menarik, mengapa saya harus menerima tawaran anda?”

“Harta, tahta dan wanita”

“Cih, terlalu klasik. Tanpa masuk parpol pun saya bisa mendapatkan ke tiganya”.

“Cinta dan Pengabdian. Cinta dan pengabdian pada tanah dan darah negeri ini yang membuat anda harus menerima tawaran kami. Bersama kita membangun negeri ini hingga terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”, bujuk Sang Politikus.

“Maaf, tapi saya tidak merasakan hasrat pengabdian dalam partai anda. Yang saya rasakan malah libido kekuasaan yang sudah overdosis”

Perbincangan merekapun berlangsung cukup lama kemudian berakhir dengan keputusasaan sang politikus. Ilo’ bukannya tidak suka ataupun jijik dengan dunia perpolitikan, hanya saja ia belum memiliki “kepentingan” dalam ranah tersebut. Itu saja.

Kita semua tahu bahwa Kepentingan berakar dari kata penting. Penting dan genting adalah dua komponen yang membentuk skala prioritas, alasan seseorang untuk memilih. Dan makna penting dalam kepala Ilo’ tidak lah sama dengan “penting” orang kebanyakan. Penting dalam dunianya menembus batas rasionalitas, sesuatu yang hanya bisa dijangkau dengan iman.


Begitu sang politikus pulang dengan tangan hampa, suara Sang Guru terngiang-ngiang di kepala Ilo’, “Engkau selamat nak! lagi pula anak muda yang naik ke atas panggung kekuasaan akan kehilangan banyak ilmu”.