Wednesday, 27 April 2016

La Garetta' #9 [Misdirection]

Mata Rakyat telah dicabut, Rakyat meraba-raba dalam kasak Kusuk
_Sajak Mata Mata WS Rendra_

      Sebuah konferensi rahasia yang dihadiri oleh orang-orang penting negara, berlangsung di bawah sana. Mereka sedang menggelisahkan sebuah berita yang mengancam rahasia negara tercuat ke publik.

“Hanya karena sebuah postingan blog, waktuku terbuang di tempat ini?”, Gumam seorang petinggi A.

“Aku juga tak menyangka dampaknya akan separah ini. Beberapa Stasiun TV telah memberitakan kesotoyan kesotoyan mereka”, diikuti gumaman petinggi B.

“Mau bagaimana lagi?, ketika satu anjing menggonggong, anjing yang lain ikut menggonggong meski tak tahu apa yang sebenarnya digonggongkan”, Petinggi C bergumam tenang

“Kalau begitu segera perintahkan anjing anjing media itu untuk menghentikan berita nya!.” Seru petinggi D

Slow Down, Baby!, Kau kira dengan seperti itu gonggongan akan berhenti?. Saat ini, publik tak sebodoh itu. Ketergesa-gesaan kita justru akan membuat masyarakat semakin curiga” Petinggi E ikut angkat bicara


“Lalu apa yang harus kita lakukan?”, Tanya petinggi D.

“Biarkan berita itu mengalir sewajarnya. Dan seperti biasa, kita angkat beberapa berita yang lebih heboh dan menarik bagi mereka”, Saran Petinggi E.

“Apalagi yang lebih heboh selain ini?. Tak ada lagi. Kasus terorisme? perselingkuhan para pejabat? sensasi unik para artis? kemunculan aliran sesat? Semua itu cuman bertahan beberapa hari doang, gak bakal mempan mengalihkan gonggongan mereka.” Petinggi B terdengar pesimis.

      Semua pun mulai diam berpikir sejenak. Petinggi E sedang memainkan HP nya, mengirimkan sebuah intruksi kepada salah satu jaringannya. Sesaat kemudian pesan balasan masuk. Dan Petinggi E kembali membuka forum dengan wajah yang lebih cerah.

“Masalah ini akan segera terselesaikan. Aku tahu siapa bidak pengalih yang paling cocok kita gunakan untuk masalah seperti ini”. Sekilas senyum petinggi E merekah sementara yang  lain masih bertanya-tanya. Dan setelah mendengar penjelasan dari petinggi E , konferensi itu pun bubar dengan masalah yang sepertinya telah diselesaikan.


*******************************

      Di Sebuah ruangan, bertumpuk berkas-berkas isu besar yang mengantri untuk diluncurkan. Tinggal menunggu momen yang tepat untuk peluncurannya. Sebagian berkas sengaja ditampung karena keraguan, sebagian lagi karena suapan. Seorang pria memasuki ruangan itu setelah mendapatkan perintah dari atasannya. Ia tengah sibuk mencari sebuah dokumen. Tak lama kemudian dokumen yang ia cari sudah ditangannya. Tanggal masuknya masih baru. dibuat beberapa hari yang lalu ketika seorang gadis melaporkan telah dilecehkan oleh idolanya.

********************************

      Siang itu Ilo sedikit kesal, suara bell diikuti gedoran pintu bertalu-talu mengganggu tidur siangnya di hari libur. Namun kekesalan itu berubah menjadi keterkejutan ketika ia menyaksikan beberapa polisi, wartawan dan reporter sedang menanti kemunculannya di depan pintu Apartemen. Tanpa basa basi, petugas polisi segera menyerahkan surat penangkapan.

“Fitnah macam apa lagi ini?”, desis nya dalam hati setelah membaca lembaran tersebut.

      Tapi mau bagaimana lagi, Ilo tak memiliki daya untuk melakukan perlawanan. Beberapa jam kemudian Ilo’ sudah ditahan di kantor polisi dengan tuduhan pelanggaran asusila.

       Mendengar kabar tersebut, jutaan penggemar Ilo’ tidak tinggal diam. Sontak, mereka melakukan aksi simpati di mana-mana. Di jalanan, di depan kantor polisi, di depan kantor DPR, sampai di istana negara. Mereka turut mengekspresikan pembelaan sekaligus keprihatinan dengan berbagai macam cara, dari mogok makan, teater jalan, hingga bakar ban.
Belantara social media mulai ramai dengan kicauan, gonggongan, ngeongan, kokokan, ataupun cicitan para likers maupun haters. Tagline #SaveILO #PrayforILO menjadi world trending topic di sosial media.

      Hari itu, minggu itu, bulan itu wartawan panen berita. Reporter mondar mandir mengikuti jam terbang. Ini skandal nasional, tak boleh disia-siakan. Dan lagi lagi, Bad news is a good news. Bermacam spekulasi pun dimunculkan untuk mempercantik berita. Meskipun faktanya Budi melempar anjing, tentu orang akan lebih tertarik mendengar Budi dilempar anjing. Hal yang sensasional memang sering menarik perhatian. Sedikit demi sedikit, objektivitaspun disampingkan. Wejangan jurnalistik Socrates tak berlaku lagi. Apakah itu benar?, Apakah itu baik?, Apakah itu bermanfaat?, bukan lagi filtrasi sebelum menyaji dan mengkonsumsi informasi. Entah siapa yang menodai dunia jurnalistik macam ini? Apakah Jurnalis yang tergoda mengikuti ketertarikan (demand) pemirsa ataukah pemirsa yang tergoda mengikuti sajian (supplies) berita para Jurnalis?. Baik penggoda maupun yang tergoda, akan sama sama nista. Penggoda nista karen kepicikannya. Yang tergoda nista karena kebodohannya.

       Dibalik layar sang petinggi tersenyum bangga atas kesuksesan bidak pengalih yang ia pilih. Skandal yang lebih besar sudah terkubur dari telinga-telinga mereka. Benar benar masif dan efektif, gonggongan demi gonggongan publik kini terfokus pada satu orang. Dan Ilo hanyalah seorang kafilah yang berharap dirinya cepat berlalu.


Post a Comment