Tuesday, 19 June 2012

KEUTAMAAN KEJUJURAN


Definisi jujur


Etimologi
Secara etimologi, jujur merupakan lawan kata dusta. Dalam bahasa Arab diungkapkan dengan "Ash-Shidqu" sedangkan "Ash-Shiddiq" adalah orang yang selalu bersikap jujur baik dalam perkataan mau pun perbuatan (4)
Allah swt. berfirman,
"..maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya." (an-Nisa' [4]:69)
Maksud "para pecinta kebenaran" pada ayat di atas adalah mereka yang gemar bersikap jujur, mengakui kebenaran, atau orang yang mempraktikkan apa dikatakanya. Ada juga yang menafsirkan bahwa mereka adalah pengikut terbaik paar nabi yang denngan segera mengakui kebenaran knabian, seperti Abu Bakar r.a.
Terminologi

Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definasi jujur secara termino;ogi, di antara definasi jujur mengikut para ulama terebut adalah sebagai berikut.


a)  Jujur adalah kata hati yang sesuai dengan yang diungkapkan. Jika   salah satu   syarat itu   ada yang hilang, belum mutlak disebut jujur. (Raqib)

b)  Jujur adalah hukum yang sesuai dengan kenyataan, dengan kenyataan, dengan kata lain, lawan dari bohong.(7) (Jurjani)

c)  Jujur adalah kesesesuaian antara lahir dan batin, ketika keadaan seseorang tidak didustakan  dengan tindakan-tindakannya, begitu pula sebaliknya.

d)  Para ulama menjadikan ikhlas sebagai perkara yang tidak boleh luput dan kejujuran itu sifatnya lebih umum, yakni  bahwa semua orang yang jujur sudah tentu ikhlas. tetapi tidak semua orang yang ikhlas itu jujur.

e)  Imam Junaid pernah ditanya tentang makna ikhlas dan jujur, "Apakah keduanya sama atau berbeda?' Dia menjawab, "Keduanya berbeda. Jujur merupakan asas segala sesuatu, sedangkan ikhlas itu tidak dapat terwujud  kecuali setelah masuk dalam amal. Amal terebut pun tidak akan diterima kecuali jika disertai jujur dan ikhlas."(8)

f)  Kejujuran adalah kemurnian hati Anda, keyakinan Anda yang mantap, dan ketulusan amal Anda. (imam Qusyairi)

Dalil tentang kejujuran


Dalam Alqur’an Allah SWT berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“ Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kalian beserta orang-orang yang jujur. ” (Q.S. At Taubah: 119)
Dalam Allah swt. memerintahkan orang yang beriman untuk selalu bersama orang-orang jujur dan Ia berjanji akan menempatkan mereka bersama para nabi, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang saleh.
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلىَ البِرِّ وَإِنَّ البرَّ يَهْدِيْ إِلىَ الجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِيْقاً وَإِيَّاكُمْ وَالكَذِبَ فَإِنَّ الكَذِبَ يَهِدِى إِلىَ الفُجُوْرِ وَإِنَّ الفُجُوْرَ يَهْدِي إِلىَ النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيتَحَرَّى الكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كذاباً  رواه مسلم .

Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bersabda Rasulullah : Kalian harus jujur karena sesungguhnya jujur itu menunjukan kepada kebaikan dan kebaikan itu menunjukkan kepada jannah. Seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk jujur sehingga ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian dusta karena sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada keburukan dan keburukan itu menunjukkan kepada neraka. Seseorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk berdusta sehingga ditulis disisi Allah sebagai seorang pendusta” (HR Muslim) Shohih Muslim hadits no : 6586
Makna Secara Umum:
Dalam hadits ini mengandung isyarat bahwa siapa yang berusaha untuk jujur dalam perkataan maka akan menjadi karakternya dan barangsiapa sengaja berdusta  dan berusaha untuk dusta maka dusta menjadi karakterya. Dengan latihan dan upaya untuk memperoleh, akan berlanjut sifat-sifat baik dan buruk. 
Hadits diatas menunjukkan agungnya perkara kejujuran dimana ujung-ujungnya akan membawa orang yang jujur ke jannah serta menunjukan akan besarnya keburukan dusta dimana ujung-ujungnya membawa orang yang dusta ke neraka.
Faedah Yang Bisa Diambil dari Hadits:
1.    Kejujuran termasuk akhlak terpuji yang dianjurkan oleh Islam.
2.    Diantara petunjuk Islam hendaknya perkataan orang sesuai dengan isi hatinya.
3.    Jujur merupakan sebaik-baik sarana keselamatan di dunia dan akhirat.
4.    Seorang mukmin yang bersifat jujur dicintai di sisi Allah Ta’ala dan di sisi manusia.
5.    Membimbing rekan lain bahwa jujur itu jalan keselamatan di dunia dan akhirat.
6.    Menjawab secara jujur ketika ditanya pengajar tentang penyebab kurangnya melaksanakan kewajiban.
7.    Dusta merupakan sifat buruk yang dilarang Islam.
8.    Wajib menasihati orang yang mempunyai sifat dusta.
9.    Dusta merupakan jalan yang menyampaikan ke neraka.

Kedudukan  jujur


Ibnu Qayyim berpendapat bahwa jujur adalah sifat yang membuat seseorang menjadi terhormat. Dari sana akan muncul seluruh derajat para pencari kebenaran dan jalan yang paling lurus. Orang yang tidak menitinya akan celaka. Kejujuran membedakan antara orang munafik dan orang mukmin serta penduduk surga dan penduduk neraka. Kejujuran adalah pedang Allah swt. di muka bumi. Pedang tersebut tidak akan pernah diletakkan pada sesuatu, kecuali iamematahkannya dan tidak akan berhadapan dengan yang batil kecuali ia akan melawan dan menumbangkannya.

. Barang siapa naik takhta dengan jujur, dia tidak akan diturunkan. Kejujuran dapat membungkam musuh. Kejujuran adalah ruh segenap amal, pangkat segala seusatu, faktor yang mendorong seseorang berani menghadapi rintangan, dan pintu masuk bagi hamba yang indin sampai ke hadirat Allah swt. Kejujuran juga merupakan fondasi tegaknya agama dan tiang penyangga tenda keyakinan. sedangkan kebohongan adalah dasar kemunafikan. Apabila kebohongan berkumpul dengan keimanan, salah satunya pasti tumbang

Derajat kejujuran berada di urutan kedua setelah derajat para nabi sebagai derajat paling tinggi.
Di antara tempat-tempat tinggal mereka di surga, akan mengalir mata air dan sungai-sungai ke tempat tinggal orang-orang yang jujur. Kelak hati-hati mereka pun akan saling bertautan.

 Allah swt. juga mengisahkan tentang kekasih-Nya, Ibrahim a.s., bahwaIbrahim telah memohon kepada-Nya agar dianugerahi lisan yang jujur sebagai teladan bagi generasi yang akan datang setelahnya. Hal itu, Allah kisahkan di dalam firman-Nya,

"Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian." (asy-Syu 'ara [26]:84)

Pertentangan antara kejujuran dengan kebohongan tidak memerlukan sesuatu yang luar biasa untuk membedakan salah satunya dengan yang lainnya, karena pertentangan tidak terjadi di antara dua hal yang mirip sehingga salah satunya bisa rancu dengan yang lainnya, bila kejujuran memiliki derajat-derajat keluhuran dan kebohongan juga memiliki derajat-derajat kerendahan, maka Nabi yang jujur adalah orang yang paling jujur, yakni kejujurannya menempati derajat paling tinggi, sementara pengaku diri sebagai nabi pembual besar adalah orang yang paling bohong, karena dia berbohong atas nama Allah,

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ

“Maka siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang kepadanya?” (Qs.Az-Zumar: 32),

dengan itu seorang nabi palsu sekaligus pembual besar berada di derajat kerendahan dusta yang paling bawah, selanjutnya tidak mungkin keadaan seorang nabi sejati dengan nabi palsu bisa samar kecuali bagi orang-orang yang berada di tingkat kebodohan dan kedunguan paling parah, dari sini maka kehidupan seorang nabi dan keadaannya membuktikan kejujurannya dan menetapkan kenabiannya sekalipun tidak ada mukjizat.

Kenabian hanya diakui oleh orang yang paling jujur atau orang yang paling dusta, yang pertama tidak akan rancu dengan yang kedua kecuali bagi orang yang paling bodoh, bahkan kehidupan masing-masing berbicara tentangnya dan mengungkapkannya, membedakan antara si jujur dengan si dusta memiliki banyak cara dalam masalah yang lebih rendah dari kenabian, lalu bagaimana dengan kenabian?

Betapa bagusnya ucapan Hassan,
Seandainya tidak ada bukti yang nyata padanya
Niscaya penampilannya saja telah memberitakan padamu.

Barangsiapa mengetahui Rasul, kejujuran, kesetiaan dan kesesuaian antara kata-kata dengan perbuatannya niscaya dia meyakini secara pasti bahwa beliau bukan seorang penyair dan bukan pula seorang dukun.

Manusia membedakan antara si jujur dan si dusta dengan berbagai bentuk bukti, bahkan di bidang pekerjaan dan perkataan, seperti orang yang mengaku bisa bertani, bisa menenun, menulis, menguasai ilmu nahwu, ilmu pengobatan, ilmu fikih dan lainnya. Sedangkan kenabian mencakup ilmu-ilmu dan amal-amal perbuatan yang merupakan sifat seorang rasul, ia dalam ilmu paling mulia dan perbuatan paling luhur, lalu mana mungkin si jujur tidak bisa dibedakan dengan si dusta dalam hal ini? Tidak disangsikan bahwa para ulama ahli tahqiq sudah menyatakan bahwa berita satu orang, dua orang atau tiga orang bisa ditunjang oleh indikasi-indikasi yang membuatnya mampu menetapkan ilmu yang dipastikan, sebagaimana kerelaan seseorang, cinta, marah, bahagia, sedihnya dan perkara lain dalam jiwanya lainnya bisa dketahui melaui aura wajahnya yang terkadang tidak mungkin diungkapkan.
Allah berfirman,
وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ
Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (Qs.Muhammad: 30).
Hukum Berkata jujur sudah jelas  wajib. Baik itu dalam beribadah maupun dalam bermu’amalah seperti jual beli. Namun ada juga kondisi tertentu dimana seseorang diperbolehkan untuk berbohong
·         Bohong yang dilakukan oleh seseorang dalam rangka mendamaikan dua orang saudaranya yang sedang bermusuhan.
·         Bohong yang dilakukan suami untuk menyenangkan istrinya atau bohong yang dilakukan istri untuk menyenangkan suaminya.
·         Bohong untuk menyelamatkan nyawa seseorang yang terancam.

Kisah Teladan Kejujuran


                Suatu hari bocah cilik bernama Abdul Qodir Jailani berkata pada ibunya:”Ibu ijinkan aku ke Bagdad untuk belajar dan berziarah pada orang-orang shalih. Sang ibu terheran-heran mendengar permintaan anaknya. Sambil menangis pilu ia berkata:”Mengapa engkau berkata begitu anakku?”. Lalu Abdul Qadir menjelaskan keinginanya untuk menuntut ilmu.
                Dengan berat hati, akhirnya sang ibu melepaskan Abdul Qadir pergi. “Hai anakku,` berangkatlah!Engkau telah aku titipkan pada Allahu” ujarnya. Tak lupa sang ibu memberi uang sebesar 40 dinar yang disimpan didalam saku baju.” Jangan lupa pesan ibu. Selalulah berkata benar dan berlaku jujur dalam keadaan apapun,”tambah sang ibu. Abdul Qadir pun pamit dan segera bergabung dengan kafilah menuju bagdad.
                Baru saja mereka meninggalkan kota Hamdan, tiba-tiba mereka dikepung segerombolan perampok. Kawanan perampok itu serta merta melucuti semua harta yang ada dalam kafilah itu. Anehnya kawanan perampok itu tidak mengusik sedikitpun Abdul Qadir Jaelani. Hal ini membuatnya terheran-heran.
                Tiba-tiba seorang perampok yang tengah melintas didepannya bertanya,”Hai orang fakir, engkau mempunyai apa?”
“Ada uang yang terjahitdalam saku dibawah ketiakku,” jawab Abdul Qadir.
                Perampok itu mengira Abdul Qadir mengejeknya, karena itu dia segera berlalu tanpa berbuat apa-apa. Tak lama kemudian muncul lagi perampok lainnya dan bertanya sebagaimana perampok pertama tadi. Abdul Qadir pun menjawab sejujurnya.
                Setelah semua harta kafilah itu mereka lucuti, Kawanan membagi harta jarahan disebuah bukit yang tak jauh dari situ.Disitu patra perampok menyampaikan apa yang mereka lihat dari Abdul Qadir. Melihat hal itu kepala perampok merasa heran. Lalu ia bertanya kepada Abdul Qadir,” apakah yang anda bawa?”
” 40 dinar,” jawab Abdul Qadir
“Di manakah itu?” tanyanya kemudian
” Terjahit dalam saku dibawah ketiakku.”
                Disaksikan anak buahnya, kepala perampok itu memeriks Abdul Qadir. Setelah mendapatkan apa yang dikatakan itu benar mereka bertanya,” Mengapa engkau mengatakan yang sebenarnya?”
” Karena ibuku berpesan supaya selalu berkata benar dan jujur dan aku tidak menyalahi janjiku ,” jawab Abdul Qadir jailani mantap.
                Tiba-tiba pimpinan perampok itu menangis. “Engkau tidak menkhianati janjimu pada ibumu, sedang kami telah bertahun-tahun menyalahi dan melanggar larangan Allah. Maka sejak hari ini kami bertaubat pada Allah,”tuturnya.
                Melihat tindakan pimpinannya, semua perampok itu ikut bertaubat. Mereka berkata, “Engkau pimpinan kami dalam perampokan. Maka engkau jauga pimpinan kami dalam bertobat.” Setelah itu mereka mengembalikan harta rampokan kepada pemiliknya. Mereka juga berjanji tak akan mengulangi perbuatan dosa lagi.
                                Terbukti, buah kejujuran tak hanya melahirkan kebajikan. Kejujuran ternyata juga mampu menerangi hati manusia yang terbelenggu dosa dan maksiat. Kejujuran yang telah diperlihatkan Abdul Qadir Jailani mampu mengetuk pintu hati pimpinan perampok serta anak buahnya hingga mereka bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.

Hikmah


Bila kejujuran seperti tersebut di atas terwujud, banyak hikmah yang akan dipetik. Pertama, jujur akan mengantarkan ke surga. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan ke surga … dan sungguh kebohongan akan mengatarkan kepada dosa, dan dosa akan mengantarkan kepada neraka .…” (HR Bukhari-Muslim).

Berdasarkan ini, jelas bahwa tidak mungkin kebaikan akan datang jika manusia yang berkumpul di dalamnya adalah para pembohong dan pendusta. Bila di tengah mereka menyebar kebohongan maka otomatis dosa akan semakin merajalela. Bila dosa merajalela maka jamainanya adalah neraka.

Kedua, jujur akan melahirkan ketenangan. Rasulullah SAW bersabda, “… maka sesungguhnya kejujuran adalah ketenangan dan kebohongan adalah keraguan .…” (HR Turmidzi). Orang yang selalu jujur akan selalu tenang, sebab ia selalu membawa kebenaran. Sebaliknya, para pembohong selalu membawa kebusukan dan kebusukan itu membawa kegelisahan akibat kebusukannya. Ia akan selalu dihantui dengan kebohongannya dan takut hal itu akan terbongkar. Dan, bila seorang pembohong seperti ini menjadi pemimpin maka ia tidak akan sempat mengurus rakyatnya, karena ia sibuk menyembunyikan kebusukan dalam dirinya.

Ketiga, jujur disukai semua manusia. Abu Sofyan pernah ditanya oleh Heraklius mengenai dakwah Rasulullah SAW.  Abu Sofyan menjelaskan bahwa di antara dakwahnya adalah mengajak berbuat jujur. (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah SAW terkenal sebagai manusia yang paling jujur. Bahkan, sebelum kedatangan Islam, beliau sudah masyhur sebagai orang yang jujur. Orang-orang kafir Makkah pun mengakui kejujuran Rasulullah SAW, sekalipun mereka tidak beriman. Bahkan, mereka memberi gelar al-Amin (orang yang tepercaya) kepada Rasulullah. Selain itu, mereka juga selalu menitipkan barang berharga kepada Rasul SAW.

Keempat, jujur akan mengantarkan pelakunya pada derajat tertinggi. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang memohon dengan jujur untuk mati syahid, (maka ketika ia wafat) ia akan tergolong syuhada sekalipun mati di atas kasurnya.” (HR Muslim).

Dan kelima, jujur akan mengantarkan pada keberkahan. Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan bahwa seorang pembeli dan pedagang yang jujur dalam melakukan transaksi perdagangannya maka ia akan diberkahi oleh Allah. Sebaliknya, jika menipu maka Allah akan mencabut keberkahan dagangannya. (HR Bukhari Muslim). Wallahu a’lam








Post a Comment