Monday, 25 February 2013

Keropak


           Jum’at. Ada yang unik pada hari ini. Libur kuliah? bukan. Dapat ayam tulang lunak dari kantor? bukan juga. Telat mandi? Hah, itu sih hampir setiap hari. Mau tau banget atau  mautau aja nih? Ok aku bocorin.
Kemarin, waktu semester satu aku
kebagian mata kuliah Statistika dan Akuntansi pada hari jum’at. Hari yang menantang bagi sebagian mahasiswa, bayngkan bagaimana deretan angka menari nari diatas kepalamu pada hari itu selama hampir 5 jam. Akhirnya setelah menimbang dan memutuskan, maka sah-lah hari jum’at menjadi Yaumul hisab/ Hari perhitungan.
Untungnya, jum’at semester ini agak berbeda. Gak ada kelas pada hari Jum’at. Yes. Tapi tetap saja, predikatnya sebagai Hari perhitungan masih berlaku. Hal ini dikarenakan semester ini statusku tidak hanya sebagai mahasiswa, akan tetapi juga seorang Marbot. Dan tahukah kalian apa aktivitas para marbot stelah Shalat Jum’at?
Yah, apa lagi kalau bukan menghitung keropak/ Ktak amal?.
Dan di mesjid Andalusia agak beda. Keropaknya tak hanya satu sebagimana di mesjid mesjid biasa. Mesjid ini memiliki belasan keropak di setiap shafnya. Itu baru keropak kecil loh. Belum lagi 2 keropak jumbo yang berada di ujung tangga yang setiap saat menanti para penderma. Isi kedua kotak jumbo ini lumayan juga. Kira kira bisalah beli sepuluh baskom siomaylah per minggunya. (sioomay segitu buat apaan bung?).
Perhitungan isi keropak memiliki beberapa tahap. Tahap pertama adalah tahap membuka gembok keropak. Memang mudah kedengarannya. Tapi ini lumayan merepotkan dan bikin rempong bagi orang yang tak biasa. Soalnya gembok keropaknya ada banyak dan pasangan kuncinya lebih banyak lagi. Kalian akan kewalahan mencari pasangan kunci setiap gembok. Apa hikmah yang bias dipetik dari dari proses ini? Hikmahnya dalah bahwa setiap sesuatu memilik pasangannya masing masing. Namun perlu perjuangan untuk menemukan pasangan tersebut.( Heheh maksa banget). Untuk pekerjaan yang satu ini kami serahkan kepada juru kuncinya. Zein, marbot asal Pulau Madura. Dan sekedar info, dia masih bujang. Jadi yang mau cari suami atau menantu alumni marbot, kami masih punya stok kok.
Semua uang yang telah dikeluarkan akhirnya dikumpulkan jadi satu dan membentuk sebuah gundukan uang. Dan Selanjutnya kami beralih ke tahap klasifikasi uang. Proses yang satu ini membutuhkan banyak tangan. Tantangan para marbot yaitu meluruskan kembali uang yang telipat dan mengumpulkannya dengan sejenissnya. Cepe’ ama cepe. Goceng ama goceng, Dua ribuan ama dua ribuan. Lima ribuan dengan lima ribuan. Begitu seterusnya. Pekerjaan ini gak boleh asal asalan loh. Uang yang terklasifikasi harus tersusun dengan rapi persis kaya’ teller di bank. Dan jangan sampai posisinya terbalik (kaki di kepala kepala di kaki).
Beberapa kali kuperhatikan tingkah laku para marbot. Jenis uang yang pertama kali mereka ambil selalu saja uang yang nominalnya tinggi. Apa lagi kalau bukan si Jago merah dan si Darah biru. (100 dan 50 ribu. Begitu aku menyebutnya). Kelihatanya memang wajar, manusia memang cenderung menyukai hal-hal yang besar. Namun yang aku heran mengapa teman-teman marbot ini menghabiskan waktu untuk mencari si jago merah dan si darah biru di tengah-tengah banyaknya lembaran 5 ribu,  2 ribu, dan seribuan. Mengapa harus si jago merah dan si darah biru yang di dahulukan. Bukan kah lebih mudah mengumpulkan lembaran 5,2 atau seribu yang sudah jelas ada di depan mata. Lagian jika semua uang kecil telahdi kumpulkan Si  jago merah dan si darah biru akan kelihatan dengan sendirinya.
Dan begitu banyak orang yang menghabiskan waktu mengejar hal hal besar namun tak menyadari ada begitu banyak hal-hal kecil disekitarnya terabaikan, yang mana jika hal kecil itu dikumpulkan sedikit demi sedikit akan lebih bernilai dari pada yang besar.
Klasifikasi sudah beres!. Tahap perhitungan pun dimulai. Yang seringkali mengeksekusi pekerjaan ini hanya dua orang. Si Ifa dan Si Alau. Si ifa bukan marbot. Karena dalam sejarah tak pernah ku temukan yang namanya marbotwati. Dialah menteri keuangan Andalusia dan satu satunya peserta perempuan yang  ikut dalam kegiatan perhitungan keropak. Persis dengan karya  Buya Hamka “Gadis perawan di sarang marbot”. (hehehe ngasal). Menghitung uang tanpa Ifa ibarat sayur tanpa garam, kurang enak kurang segar. Dia sering menjadi teman candaan para marbot bujang. Adapun si Alau, ia memiliki episode tersendiri, ada banyak hal yang sesuatu banget untuk dicerita tentang orang ini.
Selama proses perhitungan. Mereka berdua tak banyak bicara dan tak  ada yang boleh mengajak mereka berbicara. Karena kadang kala jumlah nominal yang telah terhitung langsung hilang dalam kepala. Dan akhirnyas mulaib lagi deh dari awal.
Percaya gak percaya, kegiatan perhitungan uang keropak ini bisa mengajarkan sedikit nasionalisme. Kalau aku Tanya kenalkah anda dengan I Gusti Ngurah Rai?..........
Tuh kan? Kalau begitu Sultan Mahmud Badaruddin, kenal gak? ………. Masih gak tahu juga?
Ok kalau  begitu bagaimana dengan Pangeran Antasari?.............apa? Tersangka kasus bom bali? … parah sekali kalian, emang duit jajan kalian berapa sih. Mereka semua tak lain dan tak bukan merupakan tokoh tokoh yang tepampang pada uang 50 ribu, 10 ribu dan 2 rbu rupiah.
Aku baru mengenal mereka setelah beberapa kali menghitung uang infak. Sultan Mahmud Badaruddin dari Sumatra. Pangeran Antasari dari Kalimantan. I Gusti Ngurah Rai dari Bali.
Tunggu dulu! Sepertinya aku menemukan sedikit diskriminasi. Jika diperhatikan, setiap pulau memiliki tokohnya yang terpampang pada Rupiah. Namun mengapa tak satupun ku temuklan Tokoh dari pulau Sulawesi. Aku kira Sultan Hasanuddin, Sultan Alauddin ataupun Sam ratulangi tak kalah gagahnya dengan mereka. Ooohh, atau mungkin orang Sulawesi yang terlalu gagah untuk dipasang pada nominal seperti itu. Okelah, kalau begitu kita tunggu inflasi berikutnya. Mungkin ketika lembar SEJUTA telah diterbitkan, wajah tokoh Sulawesi terpampang. Hay hay.