Friday, 22 March 2013

Pentingkah bertemu orang penting?

Mungkin orang akan menganggap hal ini biasa-biasa saja. Namun bagi manusia rantau yang desanya tak pernah sekalipun didatangi para tokoh, ini merupakan hal yang wajib untuk didokumentasikan.


Sejak SD hingga SMA, para tokoh dan orang-orang terkenal hanya bisa ku lihat dari Koran, majalah, TV, ataupun Radio. Satu-satunya artis yang pernah kulihat tanpa layar kaca maupun kertas adalah Doyok. Namun sekarang ceritanya berbeda,

Andalusia memberikanku pengalaman nyata bersama orang-orang seperti mereka. Bukannya apa-apa, Rumahku ini sering kedatangan orang-orang penting loh!. Kalu diceritain semua, kayaknya gak usah. Ntar kalian bakal iri. Hahhay.

Tau Mama Dede gak?. Tau dong. Suatu ketika, Ia pernah mengadakan Road show di setiap masjid. Dan salah satu masjid persinggahannya yaitu Andalusia. Saat itu benar-benar ramai dan didominasi oleh ibu-ibu pengajian dari berbagai penjuru desa. Kebayang jika mamaku ada di sini pasti dia bakal jingkrak-jingkrak kaya’ jangkrik jungkir balik. Soalnya dari dulu dia ngefans banget ama mama Dede. Setiap sahur kami terpaksa harus menonton tausiahnya bersama Abdel, setelah kalah dalam perebutan remot TV.


Kesempatan itu tentunya tak ku sia-siakan, karena kali ini posisiku bukanlah sebagai penonton mama dede, namun sebagai Tuan rumahnya. Sehingga dengan mudahnya aku tinggal masuk ke ruang VIP dan bertemu langsung. Asiknya, Pak Purnomo manajer Andalusia yang langsung mempromosikanku kepada beliau sebagai DKM dan penerima beasiswa di STEI TAZKIA. Hahhhay. Tidak banyak yang aku ucapkan, malahan mama dede yang lebih cerewet dan sempat mengomentari rambutku yang sesuatu itu


Jadi Pengalamannya Cuma itu doang?. Eits, Jangan dipotong.


Kalo yang satu ini beda lagi ceritanya. Yaitu pada idul adha kemarin, aku bertugas sebagai penyambut jamaah di ujung tangga. Tak lama aku berdiri mempersilahkan para jamaah, tiba tiba ada seorang bapak yang ingin berbicara sebentar, “Mas, bisa sediain tempat kosong gak?"
"buat apa yah pak?"
"Soalnya p
ak menteri mau datang”.

“Appwaa? ” teriakku dalam hati.
“maunya di  saf mana pak?” Tanya ku yang kurang berpengalaman melayani orang seperti mereka.


“terserah mas aja deh, yang penting ada dua tempat kosong Untuk Pak mentri dengan anaknya”


Akhirnya akupun mengambil sajadah dan meletakkannya di saf ke dua tepat di depan mimbar, sebagai kapling agar tak diisi orang.


“Udah saya sediain mas di saf ke dua”


“nanti mas aja yang ngantering dia ke sana”


apwwwwwaaa?, gak salah nih?. Jujur, seumur hidup aku belum pernah menjadi guide seorang penghuni Kabinet. Akhirnya ku lanjutlkan tugasku menyambut para jamaah Idul adha, sambil menunggu kedatangan pak Menteri. Setelah mesjid sudah hamper penuh, barulah pak Gamawan Fauzi Menteri  Dalam Negeri datang. Aku  langsung menemuinya dan mengantarkannya ke tempat yang sudah ku siapkan. Satu persatu jamaah aku suruh untuk membuka sedikit jalan agar pundaknya tidak dilangkahi. Ternyata banyak juga yang memperhatikan kami. Namun Baru beberapa langkah, Pak Gamawan berhenti dan memutuskan untuk duduk di area pojok saja.


“ayo pak”, ajak ku untuk terus. Namun dia member isyarat bertanda enggan dan segan melewati ramainya saf-saf. Dengan sedikit memaksa ku ajak lagi hingga ia akhirnya mau. Dan ini pengalaman pertamaku memerintah seorang menteri loh. Sebelum acara ied dimulai, kami pun menyempatkan berbasa basi terlebih dahulu. Dan lagi-lagi ini pengalaman pertamaku berbasa basi dengan seorang menteri.


Sering pula Andalusia kedatangan penulis-penulis best seller, salah satunya adalah Muhammad Assad dengan bukunya Notes From Qatar. Saat itu ia menjadi pembicara dalam sebuah talk show di Auditorium Al-hamra, lantai dasar. Ia banyak membahas tentang dahsyatnya sedekah. Pada sesi Tanya jawab akupun langsung bertanya,


“Yang manakah lebih utama, bersedekah dengan jumlah yang besar atau bersedakah dengan menggunakan barang yang kita cintai. Contohnya saya memiliki dua barang, yang satu adalah hape jadul murah namun sangat saya saying karena memiliki nilai historis dan yang satunya lagi adalah ipad yang mahal namun bagi saya ipad ini tidak ada apa apanya jika di bandingkan dengan hape jadul tadi. Nah…”

Belum sempat ku lanjutkan, para audience langsung riuh,”ciiiieeeeeeee”


Mungkin terdengar blagu'. Mana mungkin anak muda kere' _ditengah tengah kaum hedonis_ lebih memilih hp jadul dibanding Ipad.

“Yang manakah yang lebih utama untuk disedekahkan?, Lanjutku setelah kedaan mulai tenang.

Menanggapi pertanyaanku, Bang Assad malah balik bertanya

“Ilo’ kamu punya ipad gak?” Tanya Mas Assad


“enggak” hehehe


Mendengar itu beberapa audience tertawa. Akhirnya Bang Assad menjawab semua pertanyaan dengan panjang dikali lebar. Di Akhir acara dia memberikanku sebuah buku terbarunya. Kesempatan itu tak ku sia siakan untuk berfoto bersama. Hahhhay. 


**********************


Beberapa pengalaman tersebut akhirnya ku dokumentasikan dalam tulisan ini, sebagian juga dalam bentuk foto yang langsung ku upload di fesbuk biar memancing banyak like dan komentar. Hahhay. Namun ada yang aneh dan ada yang kurang. Sudah banyak foto ku bersama para tokoh namun ternyata tak satupun ku temukan foto bersama Mama dan Bapak. Coba di cek lagi!. Ternyata  memang benar-benar tak ada.


Seberapa parah aku ini, jika dipikir-pikir apa yang sudah diberikan orang-orang penting itu sehingga akupun mengoleksi foto-foto bersama mereka. Dan berapa banyak yang telah orang tua berikan selama ini?. Perbandingannya mungkin seperti butiran debu di padang pasir. Tapi hukum lain yang berbicara, “semakin engkau sering diberi, semakin kau tak menyadari siapa pemberi”.


Jadi pentingkah bertemu orang penting?. Tentu penting, namun yang terpenting adalah kita harus lebih mengenal siapa yang paling penting diantara yang terpenting. #apaomong?

Post a Comment