Saturday, 10 May 2014

My Campus, Steady and Study.

No Dating! Inilah salah satu aturan aneh yang ada di kampusku STEI TAZKIA. Ditengah hagemoni pergaulan bebas di kalangan muda mudi saat ini yang sangat mengkhawatirkan, TAZKIA berusaha menjaga kesucian  namanya dengan melarang  mahasiswanya berpacaran. Dari kacamata pesimis, kelihatannya memang sedikit utopis, mengingat hawa nafsu semakin diakomodir oleh pengaruh liberalis.  Meskipun demikian hasil larangan itu cukup untuk mengontrol sopan santun mahasiswanya. Setidaknya beberapa mahasiswa masih malu untuk berpegangan tangan, suap-suapan, boncengan di kawasan kampus.
Terlepas dari pro kontra berpacaran, aku ingin memperkenalkan beberapa pacarku saat ini. Hem, hem. Ciye, ciye. Apa? Ciyus?. MasyaAllah!. Itukah yang mau anda bilang?. Ingat! Aku juga manusia sekaligus mahasiswa yang punya kebebasan untuk mencintai.
Aku pacaran dengannya sejak dua tahun yang lalu. Cinta itu bersemi di bulan Ramadhan ketika aku membantunya melayani kaum muslimin agar nyaman beribadah. Ia sosok yang sangat shalehah, rajin sholat, ngaji, dan zikir. Tidak hanya shaleh individual tapi juga shaleh sosial. Pengajian selalu istiqomah. Zakat, infak, sedekah jarang alfa. Amar ma’ruf dan nahi munkar tak pernah lelah. Ia berusaha menjadi oase spiritual, intelektual dan finansial untuk ummat di sekitarnya. Oase-oase itulah yang menyembuhkan dahaga cinta ku selama ini. Namanya Andalusia sosok yang elok jelita. Lama menjalin hubungan dengannya, Aktivitas keseharianku jadi tertular oleh kesholehannya.
Di tengah hubunganku bersama Andalusia, aku berselingkuh dengan sosok yang lain. Kami baru dua bulan berpacaran. Dia yang nembak duluan atau aku yang nembak duluan itu tidak penting. Yang pastinya kami sudah menemukan reaksi cinta bersama-sama. Mahasiswa kampus memanggilnya DINAR. Dia anggun nan menawan, sexy tapi tetap terlihat berwibawa, elegan tapi bergaul dengan semua golongan dari tokoh elit sampai para atlit, dari hijabers sampai facebookers, dari Mahasiswa sampai yang masih siswa.  Harus kuakui kalau aku juga tergila-gila padanya. Aku rela mengorbankan ruang dan waktu untuknya. Rela tiap malam update status dan tweet tentang dia. Rela keliling kota menemaninya. Hal ini terkadang yang membuat Andalusia cemburu pada Dinar.

DINAR dan Andalusia adalah dua sosok yang menjadi kan kampus STEI TAZKIA terlihat megah dan gagah. Kegagahan kampus terpancar melalui DINAR, dengan berbagai event-event menarik tiap tahunnya yang dihadiri ribuan pendatang antara lain Seminar Internasional, Konferensi Nasional, Tabligh Akbar, Kompetisi antar Mahasiswa dan SMA, Bazaar dan lain-lainnya. Dan pada tahun ini DINAR 2014 akan mengadakan dua event baru. Woman Days Out berupa talkshow bersama tokoh-tokoh muslimah dan DINAR Run yaitu lomba lari sepanjang lima kilometer dalam rangka memperingati hari buku nasional.

Berbeda dengan Dinar, Andalusia adalah simbol kemegahan STEI TAZKIA, meskipun struktur manajemennya berbeda tapi keduanya masih tetap dalam satu keluarga TAZKIA GROUP dan terletak dalam kawasan yang sama. Pengunjung kampus STEI tak mungkin datang ke kampus tanpa mendatangi Andalusia Islamic Center dengan segala keindahan ornamennya. Tak jarang masjid kampus ini menjadi lokasi syuting dan berbagai event-event besar.
DINAR dan Andalusia, mereka memang bukan manusia. Tapi setidaknya mereka adalah makhluk yang masih halal untuk    kupacari. Aneh?, alasanya simpel . I love what I do and I do what I love. Aku menikmati segala kesibukanku sebagai panitia di DINAR dan sebagai marbot di Andalusia Islamic. Kesalahpahaman, keegoisan, kemalasan, kejenuhan, kepercayaan, kerjasama. Aku menikmati fluktuasi gejolak di dalamnya, meski itu semua menguras banyak energi. Dinar dan Andalusia mengajariku banyak hal yang tak mungkin aku dapatkan di dalam kuliah, mereka berdua adalah pacar yang membantuku untuk lebih dewasa. Takbir!.
Post a Comment