Friday, 11 January 2013

Orang Bugis-Makassar = Manusia kasar? [Part II]



Dalam hati aku juga mengiyakan tentang tawuran itu, namun jelas tak bisa ku terima jika nilai-nilai leluhurku hanya dianggap semu. Jelas ia belum melihat Masyarakat bugis secara keseluruhan.
“Mana Budaya Siri’ orang Bugis-Makassar kalau begitu, mereka jelas tidak malu bahkan dengan bangganya menampilkan aksi-aksi bar-bar mereka di media. Anda juga bilang Pacce itu simbol kesetiakawanan?. Tapi mana?. Mereka justru saling menyakiti satu sama lain. Padahal sama-sama orang Bugis-Makassar loh.”
Ku lirik Si Udin, mukanya memerah entah itu karena malu atau marah.
“Kalian berdua itu lucu sekali. Jangan mentang-mentang orang Bugis-Makassar sikap objektif kalian hilang demi keberpihakan. Jangan-jangan kalian juga sama bar-barnya dengan mereka”
Si Udin tak tahan dan angkat bicara,“Hei bung, tidak semua orang batak itu sopir angkot, tidak semua orang papua itu kampungan, tidak semua orang sunda tidak bisa mengucapkan F, tidak semua orang padang itu pandai dagang. Begitu pula dengan orang bugis-Makasar tidak semuanya kasar. Ini bukan statistika bung, Jangan seenaknya menjudge individu berdasarkan watak sampel yang dominan. Anda jelas belum melihat secara keseluruhan”, suara Udin semakin meninggi.
“Hahahah, Benar-benar polos. Justru keilmiahan itu dilihat dari statistik. Kalau memang tidak seperti itu. Buktikan!”


“Saya Buktinya”, tegas si Udin dengan keras..
“Berarti anda sama saja kasarnya dengan mereka. Baru gitu aja udah emosi dan bentak-bentak”
“Siapa juga yang membentak, ini intonasi namanya”, suara udin semakin tinggi dan memang terkesan membentak. Si David jelas sengaja memancingnya ke suasana seperti ini. Kulihat ia sudah tersenyum penuh kemenangan. Ku coba memberi isyarat pada Udin namun tak ia gubris dan semakin masuk ke perangkap David.
“Tapi tetap saja kasar kan? Dasar orang Makassar”
“Anda ini bikin emosi saja, kalau mau cari ribut ayo kita selesaikan di luar”, Aku mulai menunduk malu melihat tingkah si Udin.
“eitts, apa ini yang namanya orang Makassar?”. David semakin menjadi-jadi.
“Sudah, sudah. Waktu presentase habis. Silahkan duduk kembali”, Untungnya Pak Dosen dengan bijak segera memotong. Aku kembali ke kursi dengan sedikit malu dan tertunduk. Sejenak, ku tatap David dengan penuh amarah. Tangan telah ku kepal keras untuk mendaratkan di wajahnya. Namun tiba-tiba aku berpikir ulang, dalam benak ku bergumam sendiri, ”Lihat siapa dirimu? Siapa lagi yang mau menyekolahkanmu di Universitas se-elit ini kalau bukan ayah David”. Teman-teman hanya tertawa kecil melihat kami dipermalukan si David. Skenario presentase tak berjalan semestinya.
            Rasa malu dan kesal itu ku bawa sampai ke kos-an. Ku lihat si Udin sedang asik menonton bola. Kekesalanku akhirnya tertuju padanya, karena ulahnya aku jadi malu. Si Idiot yang satu ini, seharusnya dia tidak usah meladeni si David. Ku lempar tasku ke arahnya, hingga ia terkejut. Ku bentak ia  habis-habisan. Sementara ia hanya menatapku.
“Ulah kamu itu bikin kita malu saja”
“Sebenarnya kamu berpihak dengan siapa sih?”, Udin hanya mengucapkan itu kemudian keluar. Terdengar bantingan pintu yang keras dan itu semakin menambah kekesalanku padanya. Ku lihat remot TV tergeletak di lantai begitu saja. Mungkin dengan menonton aku bisa lebih tenang. Tapi ternyata tidak. Dari layar kaca, Yang muncul malah berita tawuran mahasiswa Makassar. Matakupun semakin merah membara dan akhirnya berkaca-kaca.
“Kalian ini maunya apa sebenarnya?, tidakkah kalian berpikir kalau saudara-saudara perantauan sering menanggung malu akibat ulah kalian. Apa yang kalian cari, hah?. apa hanya sekedar pengakuan dan rasa ego”. Gumamku dalam hati ketika menyaksikan lemparan batu, botol, bom terlihat dimana-dimana. Jendela kampus rusak pecah. Jalanan di penuhi asap. Ingin pula ku sumbat mulut wanita pembawa berita itu. Mengapa harus tawuran yang kau tampilkan. Tidakkah kau lihat menariknya pantai Losari atau karts di Maros, sedapnya kuliner coto Makassar dan sop konro’, anggunnya Baju bodo serta uniknya tari Bosara’ dan tari Pa’golla.
*****************
            Lamunanku atas peristiwa kemarin terhenti saat merasakan tepukan dari belakang. Aku berbalik. Ternyata si Udin. Baru ingin ku utarakan penyesalanku, Ia malah minta maaf duluan atas peristiwa yang kemarin. Ia mengakui semua itu karena kebodohannya. Akupun sadar itu bukan sepenuhnya salah Udin. Beruntung sekali ku punya teman seperantauan seperti dia. Kami pun ngopi dan ngobrol seperti biasanya.
Meja di belakangku semakin gaduh. Suaranya nampak jelas. David dan kawan semejanya masih menertawakan tingkah  konyol si Udin kemarin. Berbagai singgungan ledekan mereka luncurkan tentang si Udin seolah-olah tak memperhatikan kami berdua di dekatnya. Ku lirik Udin. Ia cuma diam, tak mau bereaksi, sambil menikmati sebatang rokoknya.
Namun tetap saja telingaku panas mendengarnya. Kemarin aku telah kehilangan siri’ karenanya. Dan aku tak ingin lagi melepas Pacce, simbol kesetiakawanan sesama orang Makassar. Kini aku tak peduli, mau dia anak Rektor, anak Dosen atau apalah. Aku pun berbalik. Ku lihat mulut David dan lainnya tertawa lebar. Ku datangi Si David cerewet itu dengan tatapan tajam. Tanganku pun mengepal dan sudah gatal mendaratkan ke mukanya. Semakin ku mendekat gelak tawa mereka semakin kecil hingga terdiam. Semakin ku tatap, ekspresi mereka semakin pucat pasih.
Jangan salahkan aku, Singa pun akan marah jika anaknya kau ganggu. Bahkan semut yang kecilpun akan menggigit jika hendak kau injak-injak. Jika itu yang kalian anggap kasar, maka aku bahkan lebih kasar.