Wednesday, 13 November 2013

Pentingkah Bertemu Orang Penting III



    01/ 11/ 13, Jum’at ini cukup padat. Pagi ada UTS. Siang ada jum’atan. Setelah itu, akan ada acara besar di Auditorium al-hamra_Andalusia. Kali ini aku ditugaskan untuk menyambut jamaah jum’at di lantai bawah sekaligus mengarahkan mereka ke tempat wudhu dan loker tempat penitipan barang. Dengan koko putih dibalut rompi biru, ku sambut mereka dengan senyuman. Sebenarnya ini Ustadz apa tukang parkir sih?, hehehe. Beberapa menit sebelum azan sudah ratusan jamaa’ah yang masuk. Tiba-tiba ada satu jamaah yang menarik perhatianku. Berkacamata dan berbelah dua.  Ingatanku terpeleset di lorong waktu, meluncur ke memori 3 tahun yang lalu.
*********
       Kali ini ia memegang buku yang berbeda ditangannya. Aku mulai menebak-nebak kali ini buku apa?. Tiap kali dia dari kota Makassar ada saja buku bagus yang dibelinya. Entah mengapa selera bacaanku selalu saja sama dengannya. Namanya Ka’ Udin Mudabbir[1] pertamaku ketika aku masih unyu’unyu' masuk asrama dan saat ini menjadi pembina Asrama. Aku dan beberapa penggila buku (Ramol, Chaedar, dan Kifli) tidak akan lalai untuk mengawasi setiap koleksi terbarunya. Maklumlah, akses untuk buku-buku terbaru di daerah kami lumayan sulit, pilihan satu-satunya yah ke Kota Makassar yang jarak tempuhnya memakan waktu 5 jam. Dan Satu-satunya anak muda yang sering keluar zona pesantren yah dia.
Mengandalkan  perpustakaan ku rasa tak mungkin. Isinya hanya dipenuhi dengan buku-buku pelajaran yang tergolong membosankan bagi pecinta fiksi. Satu-satunya yang paling sering di buka para santri hanyalah ensiklopedi Harun Yahya yang dipenuhi dengan gambar-gambar unik.
       “Ini Novel terbaru yang ditulis anak Gontor, kisah-kisah dan pengalamannya hampir mirip dengan kita. Harisul Lail[2], Jasus[3], Qismul Lughoh[4], Botak, Semuanya sudah tidak asing lagi. serasa bernostalgia”. Ku perhatikan buku itu, sampulnya terlihat klasik dengan tulisan angka 5. Dibagian belakangnya tertulis sebuah kalimat sakti yang sudah tak asing lagi. “Man Jadda wajada”.  Katanya ini mahfuzat paling pertama yang diajarkan di Pesantren. Tapi aku malah pertama kali mendengarnya sebelum mondok. Kata orang-orang dikampung “Man Jadda wajada”  itu artinya “biar Janda asal ada”. Hahaha, dasar sesat. Sayangnya Novel itu masih baru, K’ Udin belum selesai membacanya. Pekerjaan yang mebosankan kembali lagi, Menunggu.
             Beberapa minggu kemudian kuperhatikan Chaedar nyengar-nyengir membaca sebuah buku, dan ternyata Sial bin Kampret, dia mendahuluiku meminjam buku baru itu. Dia memang paling jago pdkt di depan K’ Udin dengan topeng kepolosannya. Kini aku haru menunggu lagi. Sempat ku baca sinospsi singkat dari Novel itu. Hahhay, Ku temukan tokoh unik yang bernama Baso. Kok unik? Padahal ceritanya saja belum aku baca. Ku anggap unik karena dia berasal dari Sulawesi selatan, dan yang kedua Namanya mirip dengan ustadz yang pernah memukulku didapan umum gara-gara menyebarkan berita bohong yang hampir membahayakan nyawa salah satu santri. Ustadz Baso’ Patau, Sang Malaikat subuh (mungkin lain kali diceritain).
         Lama dalam penantiannya, Novel itu berada dalam genggamanku juga. Kini saatnya menyendiri, tak akan ku biarkan Chedar menceritakan secuil kisah yang dibacanya. Aku ingin melahapnya tanpa suapan dari siapaun.  Baru membuka halaman pertma saja , aku sudah mendapatkan Keutamaan Sompe’[5] dari Imam Syafii.Kalimat inilah yang selalu menginspirasi ku untuk tidak ragu merantau ke kampung orang.
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan.


          Isinya tentang pengalaman hidup seorang santri di Pondok Pesantren Darussalam Gontor. Persahabatan, Kedisiplinan, Ketekunan, Keikhlasan, Kreativitas. semua didapat dan diajarkan tanpa melalui definisi.
Gambaran tentang pesantren Gontor benar-benar membuatku takjub bercampur rasa iri. Mengapa aku tak sekolah disini dari dulu?.
Praakkk, akal sehatku menampar. “Dasar Bodoh, Allah menempatkanmu pada tempat yang memang sesuai dengan kebutuhanmu.” Benar sekali, pengalaman-pengalaman yang ku peroleh di pesantrenku juga tak kalah serunya. Dan setidaknya di pesantrenku masih bisa melihat betina tiap harinya. Teman-teman nya pun tak kalah hebohnya dan mau menerimaku apa adanya. Tiba-tiba pendengki dalam diriku kembali bertanya,”Kalau bagitu, Mangapa bukan aku saja yang membuat novel seperti ini?” bukan kah aku juga mempunyai pengalaman yang tak kalah serunya?.
Prak praak tangan akal sehat ku menampar 2 kali, “Hei Kepala kentang, memangnya Cuma kamu?, Setiap orang pasti mempunyai kisahnya masing-masing, namun hanya segelintir orang yang ingin menuliskannya. Sehebat apapun kisahmu, hanya akan terkubur bersama mayatmu tanpa tulisan”.
       Aku mengiyakan. Dihalaman Akhir tertera profil Penulis dengan segala jejak-jejak prestasinya. Kekagumanku semakin tak terkendali (jangan salah paham), di dalam hati, ku lantik dia menjadi Rivalku. Ahmad Fuadi, Aku pasti bisa melampauimu. Suatu saat kita akan bertemu.
*****************
01/ 11/ 13, Aku kembali dari lorong waktu. Tidak salah lagi, orang yang  barusan lewat itu  adalah pembicara pada acara siang ini. One day with Ahmad Fuadi. Ini momentum untuk bertemu dengan sang Rival. Semakin sulit saja untuk melampauinya. Tidak kusangka, hanya dalam 3 tahun setelah novel pertamanya terbit dia sudah setenar ini. Negeri 5 menara sudah menjadi Trilogi dengan kehadiran Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara. Sementara aku, baru menyelesaikan 1 buku yang sudah dua kali ditolak mentah-mentah oleh penerbit. Bahkan Novel pertamanya sudah dijadiin film yang tak kalah tenarnya. Mantranya benar benar ampuh, biar janda asal ada hehehe.  
Aku tidak sempat mengikuti acaranya dari awal, soalnya marbot harus menghitung infak keropak dan beres beres dulu setelah jum’atan. Tapi tetap kuniatkan hari ini harus bertemu dengannya. Kalau bertemunya hanya untuk foto bareng rasanya kurang elegan. Siasat satu satunya adalah pura pura minta rekaman testimoni, kebetulan di kantor ada kamera. Sip, Time to action.
Kaki ku melangkah Memasuki Auditorium al-Hambra. Peserta terlihat Khusyu’ dengan obrolan Si Pembicara. Materi yang disampaikannya beragam namun kaya akan inspirasi, sesekali dia menceritaan bagaimana pentingnya menguasai bahasa, luarbiasanya dampak dari menulis. Apa lagi ketika video soundtrack N5M ditampilkan. Kuperhatikan beberapa anak Gontor nyengar nyengir bangga dengan seniornya.
Iseng-iseng ku cari akun twitternya, maklumlah akhir-akhir ini aku lagi kecanduan ngetweet dan mention sana-sini. Nah, akunnya Ketemu, @fuadi1. Tiap kali ada yang terlintas dari materinya langsung ku tanggapi lewat twitter. 




Azan ashar berkumandang, Bang Fuadi segera menyelesaikan cuap-cuap zap zap nya. Namun seperti biasanya akan dibuka sesi Tanya jawab. 1 cowok, 1 cewek. Rupanya banyak yang mengacungkan tangan. Meskipun aku sendiri bingung mau nanya apa?, tetap saja ingin rasanya bertanya langsung dengan penulisnya (soalnya yang bertanya biasanya dapat doorprize aku yakin kebanyakan penanya berpikir sama hehehe). namun Sang moderator hanya memilih 1 yang tercepat mengacungkan tangan. Dan itu bukan aku, huwallah. Dua orang penanya meluncurkan cuap-cuap zap-zapnya, kemudian ditanggapi oleh Bang Fuadi dengan baik.
        Dan seperti dugaanku, penanya terbaik akan mendapat hadiah buku. Owwhh, nyesel juga gak nanya’. Namun heranku, tiba-tiba Bang Fuadi mengumumkan sesuatu.
“Selanjutnya akan saya pilih  pemenang lomba tweet”
Lomba?
“orang yang pertama adalah Egi_Farigi”
Emang ada lomba apa? Hatiku bertanya-tanya.
“Dan yang ke dua adalah ilhammansur9 “.
Hehh, itukan akun twitterku?. Akhirnya aku sadar, ternyata oh ternyata sejak awal acara, di adakan lomba mention terbaik di akun twitter Bang Fuadi. Hahahah, the miracle of twitter. Aku sendiri baru menyadari lomba ini padahal banyak loh yang mention berkali-kali namun tak terpilih,. Contohnya saja kakanda @joneskandar _langsung difollow_. Hahaha, peace!!
Aku dan dua orang cewek maju kedepan menerima novel langsung dari penulisnya. Sebelum ditawari, langsung kumintai novel yang ke tiga, Rantau 1 Muara. Bukan tanpa alasan, sepertinya novel ini pas dengan keadaanku saat ini di tanah rantau. Andaikan aku tak rantau, mungkin peristiwa ini tak akan terjadi. Heh, the miracle of Sompe’.
Si ganteng yang berada di tengah.




[1] Pengurus Asrama (Arab) ; Orang yang bertanggung jawab mengatur dan melaksanakan segala tata tertib di Asrama

[2] Piket malam (Arab)

[3] Mata-mata(Arab) ; Mereka yang ditunjuk secara rahasia untuk menemukan santri yang melanggar aturan secara diam-diam.

[4] Departemen bahasa